Pertumbuhan Uang Beredar Melambat, Redflag Gaes!

Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa jumlah uang beredar (M2) pada September 2024 mencapai Rp 9.044,9 triliun, tumbuh 7,2% secara tahunan (yoy). Meskipun angka ini menunjukkan pertumbuhan, namun terjadi perlambatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 7,3% yoy. Perlambatan ini memperpanjang tren yang sudah berlangsung sejak Juli 2024.

Ekonom dari Bright Institute, Awalil Rizky, menjelaskan bahwa melambatnya pertumbuhan M2 berkaitan dengan laju kredit yang tertahan. “Laju pertumbuhan yang nyaris sama dengan arah perlambatan ini bisa diartikan memang perekonomian sedang dalam keadaan lesu,” ujar Awalil dikutip dari kontan, Selasa (22/10).

- Advertisement -

Perlambatan ini juga terlihat dari tagihan bersih kepada pemerintah pusat, yang menunjukkan bahwa operasi keuangan cenderung melandai. Meskipun ada kemungkinan peningkatan dalam beberapa bulan mendatang seiring dengan pengeluaran anggaran pemerintah, Awalil menggarisbawahi pentingnya memantau base money (MO), karena mayoritas transaksi di Indonesia masih menggunakan uang tunai.

“Kuat dugaan laju pertumbuhan M0 lebih rendah dari M1 dan M2. Itu yang lebih berdampak pada deflasi,” jelasnya.

- Advertisement -

Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalita Situmorang, menyebut bahwa perlambatan uang beredar ini juga disebabkan oleh faktor musiman dan dampak eksternal. “Ada kontraksi pada aktiva luar negeri serta tagihan bersih kepada pemerintah pusat,” katanya. Ia menambahkan bahwa dengan pemilu yang sudah usai dan mendekati akhir tahun, banyak proyek pemerintah yang telah selesai, sehingga berpengaruh terhadap pengeluaran.

Hosianna juga menyatakan bahwa meskipun ada perlambatan, pertumbuhan kredit masih solid, dengan target di kisaran 10% hingga 12% yoy.

Global Markets Economist dari Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, menambahkan bahwa perlambatan ini berkaitan dengan ekspansi kredit yang juga melambat, disebabkan oleh iklim suku bunga yang belum menurun signifikan. “Wajar kalau kita lihat jumlah uang yang beredar cenderung trennya agak melambat,” tuturnya.

Dengan pertumbuhan uang beredar yang melambat, para ekonom menekankan pentingnya pemantauan terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi perekonomian, termasuk laju kredit, pengeluaran pemerintah, dan kondisi global. Tantangan ini perlu dihadapi agar perekonomian Indonesia tetap pada jalur pertumbuhan yang positif di masa mendatang.

- Advertisement -

 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img