Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Rabu (21/1) dengan pelemahan di tengah stabilnya kondisi ekonomi domestik namun meningkatnya tekanan dari pasar global. IHSG dibuka turun 40,27 poin atau 0,44 persen ke level 9.094,43, sementara indeks LQ45 juga terkoreksi 8,44 poin atau 0,95 persen ke posisi 875,94.
Menurut riset Lotus Andalan Sekuritas, pasar saham Indonesia berpotensi bergerak volatil sepanjang hari. Sentimen domestik dinilai stabil, namun tekanan eksternal meningkat akibat ancaman tarif baru Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap negara-negara Eropa, volatilitas pasar saham AS, serta tekanan di pasar obligasi global.
“Kombinasi sentimen domestik yang relatif stabil dan risiko eksternal yang meningkat seperti ancaman tarif Trump terhadap negara-negara Eropa, tekanan di pasar obligasi global, serta volatilitas pasar saham AS, membuat pasar Indonesia hari ini berpotensi bergerak volatil, dengan arus modal asing dan respons pasar terhadap keputusan BI menjadi kunci arah pergerakan,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta.
Dari dalam negeri, pelaku pasar menantikan hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan hari ini. Konsensus memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen, seiring nilai tukar Rupiah yang masih berada pada level terlemah sepanjang sejarah. Kebijakan ini diharapkan dapat menjaga stabilitas moneter dan daya tarik aset berdenominasi Rupiah.
Tekanan global semakin kuat setelah bursa saham Amerika Serikat dan Eropa kompak melemah pada Selasa (20/1). Pasar merespons negatif retorika Trump terkait Greenland, termasuk rencana pengenaan tarif 10–25 persen terhadap delapan negara NATO dan tarif 200 persen untuk anggur Prancis. Ketegangan ini memicu lonjakan volatilitas serta pelemahan indeks dolar AS.
Selain itu, pasar dibayangi arus keluar dari obligasi AS, termasuk keputusan dana pensiun Denmark untuk melepas US Treasurys. Investor juga semakin berhati-hati menyikapi potensi perang modal seperti yang disorot oleh investor senior Ray Dalio. Kekhawatiran makin dalam menjelang komunikasi Trump dengan pemimpin Eropa di Davos, Swiss.
Situasi tersebut mendorong investor global mengalihkan dana ke aset aman seperti emas yang kembali mencetak rekor harga. Tekanan juga datang dari lonjakan yield obligasi Jepang tenor panjang yang memperkuat sikap hati-hati pelaku pasar. Data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan perlambatan perekrutan turut menambah kecemasan terhadap prospek ekonomi global.
Pada Selasa (20/1), bursa Eropa bergerak melemah: Euro Stoxx 50 turun 0,52 persen, FTSE 100 Inggris terkoreksi 0,67 persen, DAX Jerman merosot 1,03 persen, dan CAC Prancis turun 0,61 persen. Di Wall Street, Dow Jones ditutup melemah 0,76 persen ke level 48.488,59, S&P 500 turun 2,06 persen ke 6.796,94, dan Nasdaq terkoreksi 2,12 persen ke 24.987,57.
Sementara itu, bursa Asia pagi ini menunjukkan pergerakan beragam. Indeks Nikkei melemah 176,10 poin atau 0,33 persen ke 52.815,00, sedangkan Shanghai Composite menguat 12,53 poin atau 0,32 persen ke 4.127,64. Hang Seng naik 57,99 poin atau 0,22 persen ke 26.542,11, sementara Strait Times melemah 21,99 poin atau 0,46 persen ke 4.804,04.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































