Fluktuasi harga pangan pokok strategis konsisten dijaga dan dikendalikan pemerintah secara kolaboratif. Salah satu refleksinya dapat terlihat dalam indeks inflasi komponen harga bergejolak (volatile food) yang didominasi oleh perkembangan harga pangan, sehingga dapat disebut pula dengan inflasi pangan.
Inflasi pangan secara tahunan sampai Juni 2026 diumumkan Badan Pusat Statistik (BPS) menurun 0,66 persen dari 6,24 persen di Mei 2026 menjadi 5,58 persen di Juni 2026. Indeks tersebut semakin mendekati target inflasi pangan tahunan yang dipatok pemerintah di rentang 3 sampai 5 persen.
Untuk inflasi pangan secara bulanan juga menurun 0,08 persen dari 0,22 persen pada Mei 2026 menjadi 0,14 persen pada Juni 2026. Komoditas pangan yang memberikan andil antara lain bawang merah, bawang putih, dan beras. Ada pula komoditas cabai merah, daging ayam ras, dan cabai rawit yang memberikan andil terhadap inflasi pangan secara tahunan.
“Komponen harga bergejolak mengalami inflasi (secara bulanan) sebesar 0,14 persen. Komponen ini memberikan andil inflasi sebesar 0,02 persen, sedangkan komoditas yang dominan memberikan andil inflasi yaitu bawang merah, bawang putih dan juga beras,” terang Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta pada Rabu (1/7/2026).
“Komponen harga bergejolak mengalami inflasi tahunan sebesar 5,58 persen dengan andil inflasi sebesar 0,66 persen yang dominan memberikan andil inflasi terutama beras, cabai merah, daging ayam ras, cabai rawit dan juga bawang merah,” tambah Deputi BPS Ateng.
Di samping itu, inflasi pangan secara tahun kalender (Year-to-Date/Y-t-D) berhasil distabilkan secara signifikan. Pada Januari-Juni 2026 tingkat inflasi pangan Y-t-D berada di 1,61 persen yang menurun 0,54 persen dibandingkan inflasi pangan Y-t-D sampai Juni 2025 yang kala itu tercatat berada di 2,15 persen.
Koreksi tingkat inflasi pangan Y-t-D dalam paruh pertama di tahun 2026 tersebut menandakan kondisi harga pangan di dalam negeri yang semakin membaik dibandingkan semester pertama tahun sebelumnya. Meski begitu, inflasi pangan Y-t-D dalam setahun penuh pada tahun 2025 ditutup pada level 6,21 persen.
Kondisi yang semakin stabil tersebut merupakan upaya kolaborasi pemerintah, baik pusat maupun daerah, bersama berbagai pihak yang salah satunya diterapkan menjadi masifnya pasar murah melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM). Pelaksanaan GPM di banyak titik lokasi tentu dapat lebih menjangkau dan mempermudah masyarakat terhadap akses pangan pokok strategis dengan harga yang lebih ekonomis.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat selama Januari sampai Juni tahun 2026 telah terlaksana GPM sebanyak 5.597 kali di 37 provinsi dan 378 kabupaten/kota. Hanya Provinsi Papua Pegunungan yang masih belum pernah mengadakan GPM di wilayahnya. Sementara 3 provinsi dengan GPM terbanyak antara lain Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur.
Dalam berbagai kesempatan, Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman sekaligus Menteri Pertanian (Mentan) menjelaskan bahwa pemerintah akan selalu berupaya menyediakan akses pangan bagi masyarakat Indonesia. Terlebih, saat ini terdapat tantangan yang melanda dunia dan berkemungkinan pula pengaruhi kondisi pangan.
“”Sekarang ini kita menghadapi tantangan pangan. Ada El Nino yang cukup ekstrem dan berdampak di berbagai negara. Apabila kondisi tersebut menyebabkan pasokan beras terganggu dan negara-negara produsen membatasi ekspornya karena harus memenuhi kebutuhan domestik, maka dampaknya dapat meluas ke stabilitas ekonomi dan sosial. Oleh karena itu, Bapak Presiden Prabowo meminta, harus swasembada, (itu) yang pertama. Itu permintaan beliau,” kata Amran.
Sebagai bentuk implementasinya, pemerintah memastikan dari 11 jenis pangan pokok strategis yang diamanatkan harus dijaga ketersediaannya bagi rakyat Indonesia, 8 jenis pangan pokok telah berpredikat berdikari alias tidak membutuhkan impor. Indonesia pun bisa dikatakan telah meraih swasembada pangan karena jumlah impor tidak sampai 10 persen terhadap kebutuhan konsumsi nasional.
Adapun angka 3,5 juta ton merupakan total impor 3 pangan pokok strategis 3,5 juta ton terdiri dari kedelai 2,6 juta ton, bawang putih 600 ribu ton, dan daging ruminansia 350 ribu ton. Sementara total kebutuhan konsumsi dalam negeri setahun untuk 11 jenis pangan pokok secara nasional berada di angka 68,1 juta ton.
Dengan kondisi ketersediaan pangan yang didominasi pasokan dari petani dan peternak pangan dalam negeri, Indonesia tidak terlalu bergantung terhadap negara lain. Inflasi pangan pun dapat lebih terkendali agar tidak berfluktuasi terlalu tinggi, namun masih berada di ambang kewajaran harga mulai hulu sampai hilir.
“Perlu kita sampaikan agar program yang sudah baik ini berkelanjutan. Tidak terhenti sampai Indonesia menjadi negara Indonesia emas, negara super power, sejajar dengan negara-negara di daya lainnya. Itu mimpi besar kita dan insya Allah itu akan menjadi kenyataan ke depannya,” pungkas Kepala Bapanas Andi Amran Sulaiman.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































