Menteri Keberlanjutan dan Lingkungan Singapura, Grace Fu, memuji kemajuan sektor pertanian Indonesia yang dinilai berhasil mencatat lompatan produktivitas dalam beberapa tahun terakhir. Menurutnya, peningkatan tersebut menjadi bukti keberhasilan Indonesia dalam memperkuat riset, teknologi, benih unggul, serta alat dan mekanisasi pertanian.
“Saya mendapat penjelasan yang sangat baik dari Menteri Pertanian mengenai perkembangan sektor pertanian Indonesia. Peningkatan hasil panen dan produktivitas yang dicapai sangat mengesankan. Indonesia telah banyak berinvestasi pada riset dan pengembangan, teknologi, benih, peralatan, serta mekanisasi yang berhasil meningkatkan produksi pertanian,” kata Grace Fu saat pertemuan bilateral dengan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman di Kantor Pusat Kementerian Pertanian, Jakarta, Senin (29/6/2026).
Ia mengatakan, kemajuan tersebut membuka peluang besar untuk mempererat kerja sama pangan antara Indonesia dan Singapura. Sebagai negara yang mengimpor sebagian besar kebutuhan pangannya, Singapura memandang Indonesia sebagai mitra strategis yang memiliki potensi besar untuk mendukung ketahanan pangan kawasan.
“Singapura mengimpor sebagian besar pangan yang kami konsumsi. Kedua negara memiliki hubungan yang sangat dekat dan telah lama bekerja sama. Karena itu, potensi ekspor pangan dari Indonesia merupakan peluang kolaborasi yang sangat baik,” katanya.
Menanggapi hal tersebut, Mentan Amran menjelaskan bahwa peningkatan produktivitas pertanian merupakan hasil transformasi yang dilakukan secara menyeluruh, mulai dari penguatan manajemen air, intensifikasi dan ekstensifikasi lahan, modernisasi alat dan mesin pertanian, hingga pengembangan varietas unggul berproduktivitas tinggi.
Mentan Amran mengungkapkan, Indonesia sempat menghadapi tantangan berat akibat fenomena El Nino pada 2023-2024 yang menyebabkan penurunan produksi beras dan mendorong impor hampir 8 juta ton. Namun melalui berbagai langkah percepatan yang dijalankan atas arahan Presiden Prabowo Subianto, Indonesia mampu membalikkan kondisi tersebut dalam waktu singkat.
“Tahun sebelumnya kita menghadapi El Nino yang berdampak besar terhadap produksi beras. Saat itu Indonesia mengimpor hampir 8 juta ton. Presiden menargetkan swasembada dalam empat tahun, tetapi alhamdulillah bisa kita capai hanya dalam waktu sekitar satu tahun. Tahun ini kita sudah menghentikan impor beras dari Thailand, Vietnam, dan negara lainnya,” ujar Mentan Amran.
Menurutnya, keberhasilan tersebut didukung oleh penguatan riset yang dilakukan bersama BRIN, IPB University, serta berbagai perguruan tinggi untuk menghasilkan varietas unggul baru dengan produktivitas mencapai 10 hingga 12 ton per hektare, meningkat dari rata-rata nasional sekitar 5,5 ton per hektare. Kementerian Pertanian juga mempelajari berbagai inovasi pertanian dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan China, khususnya di bidang teknologi, benih, dan mekanisasi guna meningkatkan indeks pertanaman dan produktivitas.
Keberhasilan transformasi tersebut, lanjut Mentan Amran, juga ditopang oleh perbaikan tata kelola air melalui program pompanisasi dan berbagai upaya modernisasi pertanian. Selain mengantarkan Indonesia kembali mencapai swasembada beras, transformasi tersebut turut mendorong peningkatan produksi komoditas strategis lain seperti kelapa dan kelapa sawit, serta memperkuat daya saing ekspor pertanian nasional.
Dalam pertemuan tersebut, kedua menteri juga membahas penguatan kerja sama pertanian, termasuk peluang ekspor sedikitnya 10 ribu ton beras Indonesia ke Singapura, peningkatan ekspor ayam, telur, minyak sawit, serta pengembangan kerja sama riset dan pertukaran teknologi pertanian. Kedua negara sepakat untuk menindaklanjuti pembahasan tersebut melalui komunikasi teknis guna memperluas kerja sama yang saling menguntungkan.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































