PAM Jaya menargetkan perluasan jaringan pipa air bersih hingga mencapai 7.000 kilometer sebagai bagian dari upaya memperluas layanan dan akses air bersih bagi masyarakat Jakarta. Langkah ambisius ini ditegaskan langsung oleh Direktur Utama PAM Jaya, Arief Nasrudin, dalam keterangannya pada Senin (21/7).
“Jadi sekarang ini sudah 400 Km. Tapi jangan kaget juga karena penyambungannya sampai 7000 Km,” kata Arief seperti dilansir di laman detikcom.
Perluasan jaringan ini merupakan bagian dari transformasi besar yang tengah dijalankan PAM Jaya. Untuk merealisasikan proyek tersebut, sejumlah strategi telah disiapkan, termasuk rencana menjadikan PAM Jaya sebagai Perusahaan Perseroan Daerah (Perseroda) dan mendorongnya melantai di bursa saham melalui skema Initial Public Offering (IPO). Menurutnya, perubahan status tersebut membuat PAM Jaya lebih bisa leluasa untuk mengembangkan perusahaan.
“Perlu itu dilakukan karena memang secara konseptual gitu ya. Bahwasannya Perumda itu masih seperti organik perusahaan yang dimiliki daerah tapi dengan keterbatasan beberapa aspek yang memang membuat kita kurang elastis. Kalau ke Perseroda bentuknya sudah lebih firm,” tuturnya.
“Firm dalam konteks adalah bagian pertanggung jawabannya pun juga kita jelas gitu ya. Jadi bahasanya kita pasti punya RUPS gitu ya, kita punya beberapa circular data yang lebih complete dan lebih prudent lah gitu,” sambungnya.
Arief juga menyebut bahwa rencana IPO merupakan bagian dari mandat Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung. Langkah ini diyakini akan mendorong PAM Jaya menjadi perusahaan yang lebih transparan, akuntabel, serta mengurangi beban fiskal pemerintah provinsi.
“Ya jadi saya sebenarnya ini bagian mandat dan takjub sebenarnya ketika Pak Gubernur, Pak Pram gitu kemudian menugaskan saya PAM IPO. Beliau itu cuma butuh waktu seminggu membaca data gitu ya dengan apa yang saat itu kami berikan. Kami update ke beliau dalam Ratas,” tuturnya.
“Rasanya tidak mungkin lagi kita juga menangani ini dengan fiskal Jakarta. Tidak ada caranya walaupun strategi aliansi bisa dibutuhkan tetapi IPO menjadi syarat yang benar-benar membuat kita lebih transparan, lebih akuntabel,” jelasnya.
Namun, Arief tak menampik bahwa proyek penyediaan air bersih berskala besar ini tidak lepas dari tantangan. Salah satu hambatan utama adalah tingginya biaya investasi. Menurutnya, pembangunan infrastruktur air membutuhkan dana yang tidak sedikit. Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan air bersih.
“Kendalanya pertama pastinya investing. Jadi ya anggaran. Jadi air ini investasi yang tidak murah. Makanya saya selalu mengajak masyarakat jaga air yang sudah bersih untuk dinikmati tapi tidak kemudian untuk pemborosan,” ungkapnya.
Tantangan lainnya adalah terkait ketersediaan sumber air baku. Ia menjelaskan bahwa 90% pasokan air PAM Jaya masih bergantung dari luar wilayah Jakarta, sehingga perlu sistem pipanisasi yang panjang dan koordinasi lintas instansi, termasuk pemerintah pusat.
“Itu resource. Jadi raw water kita, sumber air baku kita itu dari Jakarta itu. 90% itu dari luar Jakarta. Dan ini perlu pipanisasi yang cukup panjang. Harus permisi kepada pemerintah pusat untuk kita bisa ambil dan kita olah. Menjadi air bersih siap minum untuk masyarakat Jakarta,” tutupnya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































