PT Bank Aladin Syariah Tbk mencatatkan kinerja positif pada kuartal I-2026 dengan membukukan laba bersih sebesar Rp23,3 miliar. Capaian ini menjadi sinyal kuat bahwa bank digital syariah tersebut mulai meninggalkan fase burning cash yang selama ini identik dengan industri bank digital.
Kinerja ini turut memperbaiki posisi keuangan perseroan, sekaligus mengikis akumulasi defisit yang sebelumnya membayangi.
Keberhasilan BANK tidak terlepas dari strategi integrasi teknologi melalui sistem Open API serta kemitraan strategis dengan jaringan ritel Alfamart. Kolaborasi ini dinilai menjadi keunggulan kompetitif yang sulit ditiru, khususnya dalam menjangkau basis nasabah baru secara organik.
Melalui ekosistem tersebut, BANK mampu meningkatkan penghimpunan dana murah. Tercatat, Dana Pihak Ketiga (DPK) atau Dana Syirkah Temporer mencapai Rp10,55 triliun. Porsi tabungan mudharabah meningkat signifikan menjadi Rp1,50 triliun, sementara deposito mudharabah menurun menjadi Rp9,03 triliun.
Perubahan struktur ini menunjukkan efisiensi biaya dana (cost of fund) yang semakin baik.
Dari sisi liabilitas, BANK menerbitkan sukuk wakalah senilai Rp500 miliar dengan imbal hasil 8,25% per tahun. Langkah ini menjadi strategi untuk menjaga stabilitas likuiditas sekaligus mengurangi ketergantungan pada dana ritel.
Di sisi penyaluran pembiayaan, BANK lebih fokus pada akad musyarakah yang mencapai Rp4,72 triliun. Sementara pembiayaan berbasis murabahah relatif kecil di kisaran Rp48,4 miliar.
Strategi ini menunjukkan fokus BANK pada pembiayaan produktif, khususnya di sektor komersial dan rantai pasok, yang dinilai lebih stabil dibandingkan pembiayaan konsumtif berisiko tinggi.
Kualitas pembiayaan BANK juga tergolong sangat sehat. Rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) tercatat rendah, dengan NPF Gross sebesar 0,48% dan NPF Net 0,28%.
Selain itu, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) berada di level tinggi, yakni 43,63%. Angka ini menunjukkan kemampuan permodalan yang sangat kuat untuk menopang ekspansi bisnis ke depan.
Dengan kombinasi laba, efisiensi dana murah, kualitas aset yang terjaga, serta modal yang kuat, BANK dinilai memiliki ruang ekspansi yang luas sepanjang 2026 tanpa perlu melakukan penambahan modal melalui rights issue.
Ke depan, strategi berbasis ekosistem—khususnya kolaborasi dengan Alfamart—diproyeksikan tetap menjadi pilar utama pertumbuhan. Model ini tidak hanya memperkuat akuisisi nasabah, tetapi juga meningkatkan kualitas pembiayaan melalui integrasi rantai pasok.
Kinerja ini menegaskan bahwa transformasi bank digital tidak hanya soal pertumbuhan pengguna, tetapi juga kemampuan membangun model bisnis yang efisien, berkelanjutan, dan minim risiko.
Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News






























