Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mengumumkan perubahan pada kontrak proyek sistem transaksi non-tunai nirsentuh multi lane free flow (MLFF) dengan penerapan masa transisi menggunakan skema single lane free flow (SLFF). Perubahan ini disampaikan oleh Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur PUPR, Triono Junoasmono, pada Jumat (18/10) di Jakarta.
Triono menjelaskan bahwa masa transisi SLFF diperlukan karena basis data kendaraan bermotor yang belum lengkap dan perilaku masyarakat yang belum disiplin dalam membayar tarif tol. Ia menekankan pentingnya menghindari kebocoran pembayaran tarif tol. “Kami mengusulkan transisi ini masih menggunakan palang pada sistem SLFF,” ujarnya.
Sistem MLFF dirancang untuk menghilangkan fungsi gardu tol di gerbang tol, sedangkan SLFF yang diusulkan akan menerapkan sistem non-tunai nirsentuh pada satu gardu tol. Meskipun gardu SLFF masih menggunakan palang, ini diharapkan dapat meminimalisir kebocoran pembayaran. Setelah pengguna tol mematuhi sistem SLFF, transisi akan berlanjut ke MLFF.
Saat ini, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) sebagai pemegang proyek MLFF sedang menggodok proposal baru yang mengintegrasikan masa transisi SLFF. Diharapkan pemerintah akan menerima proposal tersebut pada akhir tahun ini. Masa uji coba sistem SLFF di Tol Bali Mandara dijadwalkan dimulai pada Desember 2024.
Proyek ini telah ditetapkan dalam daftar proyek strategis nasional (PSN), dengan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian berperan dalam mengkoordinasikan proyek ini dengan berbagai otoritas keuangan. “Penyelesaian proyek MLFF memerlukan koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan dan Bank Indonesia,” ungkap Plt Deputi Pengembangan Wilayah dan Tata Ruang Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso.
Sistem MLFF akan menggantikan transaksi di gerbang tol dengan aplikasi Cantas yang terhubung dengan dompet elektronik pengguna jalan tol. Sistem ini memanfaatkan teknologi GPS untuk menentukan tarif berdasarkan lokasi pengguna. Proyek ini didanai oleh investasi pemerintah Hungaria senilai US$ 300 juta, dan direncanakan untuk dibangun serta diimplementasikan tahun ini.
Dengan penerapan sistem SLFF dan MLFF, diharapkan transaksi tol dapat lebih efisien dan transparan, serta mengurangi antrian di gerbang tol.

































