IFG Progress baru saja merilis studi sementara yang menunjukkan dampak signifikan penurunan daya beli kelas menengah terhadap industri asuransi. Senior Research Associate IFG Progress, Ibrahim Rohman, menjelaskan bahwa penurunan daya beli sebesar 4%-5% lebih berpengaruh pada industri asuransi umum dibandingkan asuransi jiwa.
Ibrahim menyatakan, “Dampak penurunan daya beli kelas menengah ternyata lebih besar untuk asuransi umum daripada asuransi jiwa.” Hal ini menarik, mengingat asuransi jiwa biasanya terklaster pada masyarakat berpenghasilan tinggi, sehingga premi yang mahal tidak terlalu terpengaruh oleh penurunan daya beli kelas menengah.
Studi ini menunjukkan bahwa penurunan daya beli sebesar 4%-5% dapat mengurangi konsumsi hingga 0,99%-1,24%, yang pada gilirannya berdampak negatif terhadap asuransi jiwa sekitar 0,33%-0,41%. Sementara itu, sektor asuransi umum, yang sangat bergantung pada kelas menengah—termasuk asuransi properti, kendaraan bermotor, dan kecelakaan pribadi—akan mengalami dampak yang jauh lebih besar.
Ibrahim menjelaskan bahwa kelas menengah berfungsi sebagai penggerak utama dalam berbagai sektor, termasuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR), pembelian kendaraan, dan Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dengan penurunan daya beli, penyaluran KPR diperkirakan akan turun antara 39%-49%, penjualan kendaraan bermotor bisa berkurang 65%-81%, dan penyaluran KUR terancam menyusut 8%-10%.
Dampak negatif ini akan merembet ke lini bisnis asuransi umum lainnya, di mana asuransi properti bisa berkurang 5%-6%, asuransi kendaraan bermotor 6%-7%, asuransi kecelakaan pribadi 12%-15%, dan asuransi kredit hingga 15%-19%.
Studi ini masih bersifat sementara dan belum final, namun data yang ada menunjukkan bahwa industri asuransi umum perlu bersiap menghadapi tantangan besar akibat penurunan daya beli kelas menengah yang terus berlanjut.































