Kementerian Perindustrian melalui Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (Ditjen IKMA) bersama Perhimpunan Perusahaan Kosmetika Indonesia (Perkosmi) terus memperkuat ekosistem industri kecil dan menengah (IKM) kosmetik nasional melalui pengembangan kemitraan dan perluasan rantai pasok lokal. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan daya saing industri kosmetik nasional di tengah pertumbuhan pasar yang semakin dinamis, baik di tingkat domestik maupun global.
Industri kosmetik nasional menunjukkan pertumbuhan yang positif dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), jumlah industri kosmetik dalam negeri meningkat dari 1.292 industri pada tahun 2024 menjadi lebih dari 1.500 industri pada akhir 2025.
Sebesar 90 persen dari jumlah tersebut merupakan sektor IKM. Selain itu, nilai ekspor industri kosmetik juga mengalami kenaikan dari USD417 juta pada tahun 2024 menjadi USD473,8 juta pada tahun 2025.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita menyampaikan, industri kosmetik merupakan salah satu sektor yang memiliki prospek sangat baik karena didukung oleh permintaan pasar yang terus meningkat. Menurutnya, pertumbuhan jumlah pelaku usaha perlu diimbangi dengan penguatan kualitas, inovasi, dan ekosistem industri yang semakin solid.
“Industri kosmetik merupakan salah satu sektor yang memiliki prospek sangat baik karena didukung oleh permintaan pasar yang terus meningkat. Dengan jumlah pelaku usaha yang semakin besar, kami berharap industri ini tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan konsumen domestik, tetapi juga memperluas kontribusinya terhadap ekspor dan pertumbuhan ekonomi nasional,” kata Menperin dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (19/5).
Agus menambahkan, di balik pertumbuhan industri kosmetik yang positif, pelaku IKM masih menghadapi sejumlah tantangan. “Berbagai kendala yang dihadapi IKM kosmetik membutuhkan penyelesaian secara kolaboratif. Pemerintah pusat dan daerah, asosiasi, akademisi, industri besar hingga masyarakat memiliki peran penting dalam membangun ekosistem yang saling terhubung dan memberikan manfaat bagi seluruh pihak,” tegasnya.
Menurut Menperin, kemitraan memiliki peran penting dalam memperkuat daya saing IKM kosmetik nasional. Melalui hubungan kemitraan, pelaku IKM dapat memperoleh kemudahan dalam pengadaan bahan baku dan bahan penolong melalui maklon, memperluas akses distribusi dan pemasaran, hingga menjadi bagian dari rantai pasok industri besar. “Dengan demikian, tercipta ekosistem industri yang saling menguntungkan dan berkelanjutan,” imbuhnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Reni Yanita menjelaskan, pengembangan IKM kosmetik dilakukan melalui kolaborasi multipihak yang melibatkan pemerintah daerah, asosiasi, BPOM, perguruan tinggi, lokapasar, ritel, hingga industri besar. “Para pemangku kepentingan ini tidak hanya bersinergi dengan Ditjen IKMA, tetapi juga telah menjalin kemitraan langsung dengan pelaku IKM kosmetika,” ujarnya.
Sebagai implementasi dari langkah tersebut, Ditjen IKMA menyelenggarakan Pre-Event Temu Bisnis bertema Local Supply Chain for Cosmetic Industry pada 6–8 Mei 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta Utara. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian pameran Indonesia Cosmetics Ingredients (ICI) 2026 yang diinisiasi oleh Perkosmi.
Reni menjelaskan, kegiatan pre-event tersebut menjadi tahapan awal sebelum pelaksanaan temu bisnis utama yang akan digelar pada September mendatang. Dalam kegiatan ini, Ditjen IKMA memfasilitasi booth selama pameran berlangsung guna mempertemukan pelaku IKM dengan calon mitra usaha.
“Kehadiran booth ini berperan penting sebagai sarana pertemuan antara pelaku IKM dengan calon mitra bisnis untuk memperluas jejaring, membuka peluang kemitraan, dan menjajaki kerja sama yang berpotensi meningkatkan transaksi maupun investasi di sektor kosmetik nasional,” jelasnya.
Lebih lanjut, para pelaku IKM juga diberikan kesempatan untuk melakukan identifikasi kebutuhan dan penjajakan awal dengan berbagai mitra pendukung, termasuk pemasok bahan baku, jasa maklon, penyedia kemasan, hingga jaringan distribusi. Kegiatan ini diharapkan mampu memperkuat jejaring usaha sekaligus membuka peluang hilirisasi bahan baku lokal yang dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Direktur IKM Kimia, Sandang, dan Kerajinan, Budi Setiawan menyampaikan bahwa Ditjen IKMA akan terus memantau tindak lanjut hasil pertemuan bisnis guna memperkuat ekosistem industri kosmetik nasional. Sebanyak 29 IKM kosmetik binaan turut hadir dalam pre-event business matching tersebut dan diharapkan dapat memanfaatkan ajang ICI 2026 untuk memperluas jaringan bisnis dengan pelaku industri di ekosistem kosmetik nasional.
“Saat ini para IKM telah mulai mengirimkan sampel produk kepada calon mitra potensial dan kami akan terus mengawal hasil dari pertemuan bisnis ini untuk memastikan terciptanya ekosistem industri kosmetik yang mandiri, kompetitif, dan berkelanjutan,” pungkas Budi.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































