Istilah “kelas atas,” “kelas menengah,” dan “kelas bawah” sering muncul dalam pembicaraan tentang ekonomi dan masyarakat, namun apa sebenarnya arti dari istilah-istilah tersebut? Definisi kelas ekonomi umumnya dilihat melalui kekayaan bersih, yang merupakan total nilai aset yang dimiliki dikurangi utang.
Menurut data terbaru dari Federal Reserve, peringkat kekayaan bersih memberikan gambaran yang jelas tentang stratifikasi ekonomi. Untuk kelas atas, 10% peraih pendapatan teratas memiliki kekayaan bersih rata-rata sebesar US$ 2,65 juta, setara dengan Rp 40,96 miliar.
Sementara itu, dalam kelas menengah, angka-angka bervariasi. Kelas menengah ke atas memiliki kekayaan bersih rata-rata sekitar US$ 300.800 (Rp 4,64 miliar), sementara keluarga kelas menengah umumnya memiliki kekayaan bersih US$ 169.420 (Rp 2,61 miliar). Bagi mereka yang berada di kelas menengah ke bawah, kekayaan bersih rata-rata hanya US$ 58.550 (Rp 905 juta).
Kelas bawah mengalami penurunan yang signifikan, dengan kekayaan bersih rata-rata sebesar US$ 16.900 (Rp 261,24 juta). Namun, penting untuk dicatat bahwa ini hanya rata-rata dan situasi individu bisa sangat bervariasi.
Misalnya, seorang lulusan perguruan tinggi baru dengan utang mahasiswa mungkin memiliki pendapatan tinggi, sementara pensiunan dengan penghasilan rendah bisa memiliki aset yang cukup signifikan. Kehidupan dan keuangan itu rumit, dan kekayaan bersih bukanlah satu-satunya indikator kesejahteraan.
Selain itu, pendapatan dan biaya hidup sehari-hari sering kali lebih berpengaruh pada kualitas hidup seseorang. Seorang guru di daerah kecil mungkin memiliki kekayaan bersih lebih rendah dibandingkan seorang aktor yang berjuang di New York City, tetapi siapakah yang sebenarnya lebih beruntung?
Memahami kelas ekonomi melalui kekayaan bersih dapat memberikan gambaran, tetapi konteks kehidupan sehari-hari juga harus diperhitungkan dalam evaluasi kesejahteraan seseorang.
































