Bos UOB Indonesia Ungkap Dampak Kenaikan BI Rate

InfoEkonomi.ID – Keputusan Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate ke level 6,25% diprediksi akan memiliki dampak yang signifikan terhadap kinerja kredit perbankan.

Keputusan untuk menaikkan suku bunga acuan diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pada 23-24 April 2024. Dengan kenaikan 25 basis poin (bps), BI Rate kini mencapai 6,25%, setelah sebelumnya bertahan di level 6% sejak Oktober 2023.

- Advertisement -

Presiden Direktur PT Bank UOB Indonesia, Hendra Gunawan, menyatakan bahwa kenaikan suku bunga acuan BI akan mempengaruhi biaya dana (cost of fund/CoF) perbankan, seiring dengan kenaikan bunga simpanan. Hal ini akan mendorong bank untuk menaikkan suku bunga pinjamannya guna mengelola biaya dana.

Meskipun demikian, Hendra menegaskan bahwa permintaan kredit tetap menjadi faktor utama dalam penentuan suku bunga. Dia mengamati bahwa pertumbuhan permintaan bisnis belum sesuai dengan perkiraan, namun kondisi tersebut masih tergolong stabil berkat ketahanan ekonomi yang cukup baik.

- Advertisement -

Hendra menambahkan bahwa permintaan domestik yang cukup kuat telah memberikan dukungan bagi segmen korporasi di Indonesia. Sejauh ini, dengan tidak adanya penurunan permintaan, biaya operasional bahan baku dan biaya pendanaan dapat dikelola dengan stabil.

Berbeda dengan masa krisis sebelumnya seperti pada 1997, 2008, dan pandemi Covid-19, kondisi saat ini tidak mengalami penurunan permintaan domestik yang signifikan yang berdampak pada kinerja korporasi. Hendra membandingkan bahwa saat itu, permintaan kredit merosot drastis.

Ekonom Senior UOB, Enrico Tanuwidjaja, menjelaskan bahwa kenaikan suku bunga acuan BI saat ini hanya bersifat sementara, dilakukan untuk menjaga nilai tukar rupiah. Dia menekankan bahwa ini berbeda dengan tren kenaikan suku bunga acuan sejak tahun 2022 yang merupakan kebijakan jangka panjang.

Sebelumnya, Senior Faculty Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia (LPPI), Amin Nurdin, mengungkapkan bahwa dampak kenaikan suku bunga acuan BI kemungkinan akan dirasakan dalam enam bulan ke depan, terutama saat pertumbuhan kredit melambat. Selain itu, beberapa debitur mungkin mengalami kesulitan dalam pembayaran kredit mereka, yang dapat mempengaruhi rasio kredit bermasalah (non performing loan/NPL) bank dan kinerja perbankan secara keseluruhan.

- Advertisement -

Meskipun demikian, data dari BI menunjukkan bahwa penyaluran kredit perbankan pada Maret 2024 atau kuartal I/2024 masih tumbuh pesat sebesar 12,4% secara tahunan (year on year/yoy). Pertumbuhan ini lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya, yakni Februari 2024 yang mencapai 11,28% yoy, serta lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, Maret 2023, yang hanya mencapai 9,93% yoy.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img