InfoEkonomi.ID – Asuransi Allianz Life Indonesia (Allianz Life Indonesia) mengidentifikasi pasar asuransi jiwa di Indonesia sebagai pasar yang memiliki potensi besar, terutama seiring dengan pertumbuhan pesat ekonomi kelas menengah.
“Dari kantor pusat dan kantor regional kami, kami melihat bahwa pasar Indonesia memiliki potensi besar karena jumlah penduduknya mencapai 270 juta,” ungkap Direktur Allianz Life, Bianto Surodjo, dalam kunjungannya ke Kantor Berita ANTARA di Jakarta, Kamis.
Meskipun begitu, Bianto juga mengamati bahwa tantangan yang dihadapi adalah penetrasi asuransi yang masih rendah, hanya mencapai sekitar dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, sementara banyak negara sebanding lainnya telah mencapai angka dua digit dari PDB mereka.
“Jadi, sementara potensi pasar besar, penetrasi asuransi masih rendah,” tambah Bianto.
Oleh karena itu, Allianz Life Indonesia memperoleh mandat dari Kantor Pusat Allianz di Jerman untuk melakukan pemisahan unit usaha syariah (UUS) melalui PT Asuransi Allianz Life Syariah Indonesia.
“Pemisahan ini bukanlah proses yang murah. Sebelumnya, banyak hal dikerjakan oleh satu entitas, tetapi sekarang, karena berbeda perusahaan, meskipun masih dilakukan oleh banyak orang. Namun, kami yakin bahwa pasar Indonesia memiliki potensi besar, terutama karena 87 persen penduduknya Muslim, sehingga pemisahan ini menjadi hal yang diperlukan,” jelas Bianto.
Di samping masalah rendahnya penetrasi asuransi, Bianto juga mencatat bahwa literasi keuangan di Indonesia masih rendah, dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat bahwa indeks literasi keuangan hanya sekitar 49,6 persen dan inklusi keuangan sebesar 85,1 persen pada tahun 2022.
“Kami juga berkontribusi dalam meningkatkan literasi keuangan, selain fokus pada aspek bisnis,” tambahnya.
Allianz Life Indonesia mencatat total pendapatan (belum diaudit) sebesar Rp15,93 triliun pada 31 Desember 2023, meningkat sebesar 21,9 persen dibandingkan dengan Rp13,05 triliun pada Desember 2022.
Pada tanggal yang sama, laba setelah pajak perusahaan mencapai Rp213,04 miliar, mengalami penurunan dibandingkan dengan Rp325,39 miliar pada Desember 2022.
Total aset perusahaan mencapai Rp36,7 triliun pada Desember 2023, dengan liabilitas senilai Rp30 triliun dan ekuitas sebesar Rp5,7 triliun.





























