PT Avrist Assurance menargetkan perolehan premi dari bisnis baru (new business) sebesar Rp 200 miliar sepanjang 2026. Target tersebut telah disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai bagian dari rencana bisnis perusahaan tahun ini.
Direktur Bisnis Avrist Assurance, Aldi Rinaldi, mengatakan bahwa target Rp 200 miliar tersebut khusus untuk premi bisnis baru dan tidak termasuk premi pembaruan (renewal).
“Target yang harus dicapai itu sekitar Rp 200 miliar untuk new business, bukan untuk renewal,” ungkapnya saat ditemui di kawasan Jakarta Selatan, Kamis (12/2).
Aldi menjelaskan, penetapan target 2026 didasarkan pada evaluasi kinerja perusahaan sepanjang 2025. Pada periode tersebut, realisasi kinerja Avrist masih berada di bawah rencana awal, yakni sekitar 70%–80% dari target yang ditetapkan.
“Performance kami pada 2025 memang di bawah plan tidak sampai 100%, kami sekitar 70%-80%. Oleh karena itu, kami mencoba evaluasi. Kebetulan ada jajaran manajemen yang baru bergabung juga, sehingga kami melakukan reset,” tuturnya.
Langkah reset tersebut mencakup transformasi internal perusahaan hingga penyesuaian strategi distribusi. Avrist berupaya memperkuat fondasi bisnis dengan tetap mengedepankan kualitas, pelayanan, serta kepatuhan (compliance).
Untuk mencapai target premi Rp 200 miliar, Avrist akan mengembangkan berbagai kanal distribusi, baik agensi maupun nonagensi. Perusahaan juga mulai memisahkan pengelolaan kedua kanal tersebut agar perannya dapat lebih optimal.
Meski demikian, Aldi menegaskan bahwa Avrist tidak akan menjalankan strategi penjualan agresif seperti sejumlah perusahaan lain di industri asuransi.
“Kami memang tidak agresif. Kami tidak punya kemampuan untuk menandingi mereka yang melakukan strategi sangat agresif. Oleh karena itu, kami cukup konservatif moderat,” katanya.
Strategi tersebut dipilih agar pertumbuhan premi tidak hanya berorientasi pada peningkatan pendapatan (top line), tetapi juga menjaga profitabilitas (bottom line) dan kualitas portofolio bisnis.
Pada 2026, Avrist akan memfokuskan pemasaran pada produk asuransi tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung kinerja perusahaan. Berdasarkan evaluasi 2025, produk tradisional menyumbang sekitar 80% dari total bisnis.
Sementara itu, 20% sisanya akan dioptimalkan dari produk lain yang telah dimiliki perusahaan. Avrist juga berencana menghadirkan produk-produk baru guna memperkuat daya saing di pasar asuransi jiwa nasional.
Mengacu pada laporan keuangan di situs resmi perusahaan, Avrist Assurance membukukan pendapatan premi sebesar Rp 469,29 miliar hingga akhir 2025. Hasil investasi tercatat Rp 418,49 miliar, sedangkan laba setelah pajak mencapai Rp 113,99 miliar.
Dengan strategi transformasi dan fokus pada produk tradisional, Avrist berharap target premi bisnis baru Rp 200 miliar pada 2026 dapat tercapai secara berkelanjutan dan tetap menjaga kualitas bisnis di tengah persaingan industri asuransi yang semakin ketat.
Cek Berita & Artikel Lainnya di Google News

































