Survei Sun Life: 90% Pekerja Indonesia Tanggung Beban Ganda, Kesiapan Pensiun Makin Tertekan

Tekanan finansial akibat fenomena sandwich generation kini menjadi realitas bagi mayoritas pekerja di Indonesia. PT Sun Life Financial Indonesia (Sun Life Indonesia) mengungkapkan bahwa sebanyak 90% pekerja harus menopang kebutuhan orang tua sekaligus anak, sehingga berdampak langsung pada kesiapan dana pensiun.

Presiden Direktur Sun Life Financial Indonesia, Albertus Wiroyo, mengatakan kondisi tersebut membuat banyak pekerja terpaksa menurunkan ekspektasi masa pensiun. Berdasarkan survei bertajuk “Retirement Reimagined: Asia’s Retirement Divide”, sebanyak 40% responden mengaku menurunkan standar gaya hidup saat pensiun, sementara 23% memilih menunda atau memperkirakan tetap bekerja setelah mencapai usia pensiun. Bahkan, 77% responden di Indonesia memperkirakan akan terus bekerja setelah memasuki usia pensiun.

- Advertisement -

“Peningkatan usia harapan hidup memperpanjang masa produktif sekaligus memperbesar kebutuhan perencanaan keuangan jangka panjang,” ujar Albertus dalam keterangan resmi, Senin (16/2/2026).

Tekanan ini juga dipengaruhi perubahan demografi. Data United Nations Economic and Social Commission for Asia and the Pacific (ESCAP) pada 2023 mencatat jumlah penduduk Indonesia berusia 60 tahun ke atas mencapai 30,9 juta orang atau 11,1% dari total populasi. Angka tersebut diproyeksikan meningkat menjadi 64,9 juta orang atau 20,5% pada 2050.

- Advertisement -

Survei Sun Life Indonesia menunjukkan 71% responden membutuhkan penghasilan tambahan untuk menjaga keamanan finansial jangka panjang. Bagi sebagian pekerja, bekerja lebih lama adalah pilihan untuk mendapatkan fleksibilitas. Namun, bagi sebagian lainnya, hal itu merupakan konsekuensi tekanan ekonomi.

“Kami melihat dua realitas yang berbeda. Bagi mereka yang siap, bekerja lebih lama bisa menjadi pilihan yang menawarkan fleksibilitas dan kebebasan. Sementara bagi yang lain, bekerja lebih lama mencerminkan tekanan keuangan yang dihadapi. Merencanakan pensiun lebih awal dan secara menyeluruh adalah penentu realitas mana yang akan dijalani,” jelas Albertus.

Albertus menambahkan, survei perusahaannya mengelompokkan responden menjadi dua kategori yakni Gold Star Planners atau yang telah mempersiapkan pensiun secara matang. Kemudian, Stalled Starters yang menunda perencanaan.

“Sebanyak 43% responden yang menunda pensiun menyebut kebutuhan membiayai pendidikan dan kebutuhan hidup anak sebagai alasan utama,” bebernya.

- Advertisement -

Selain itu, 24% responden mengaku belum memiliki rencana pensiun sama sekali, dan 34% baru menyusun rencana dalam dua tahun sebelum berhenti bekerja penuh waktu. Hanya 38% yang merasa sangat percaya diri dengan rencana pensiun mereka.

Dari sisi perilaku finansial, terjadi pergeseran dalam cara mencari informasi. Penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk pengambilan keputusan finansial meningkat dari 13% menjadi 30% dibanding survei sebelumnya. Sebaliknya, proporsi responden yang berkonsultasi dengan bank turun dari 40% menjadi 31%, dan yang berkonsultasi dengan penasihat keuangan independen juga turun dari 44% menjadi 31%.

Menurut Albertus, teknologi dapat menjadi pintu masuk informasi, tetapi keputusan jangka panjang tetap memerlukan pertimbangan komprehensif. Karena itu, ia menilai peran institusi keuangan semakin krusial dalam membantu masyarakat memahami perencanaan dana pensiun.

“Peran institusi keuangan semakin penting dalam menyediakan panduan dan solusi yang mengubah ketidakpastian menjadi pemberdayaan, serta membantu masyarakat membangun masa depan di mana pensiun dibentuk oleh peluang, bukan tekanan,” ujar Albertus.

Cek Artikel & Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img