Emiten pembiayaan PT Buana Finance Tbk. (BBLD) resmi menandatangani perjanjian fasilitas kredit dengan PT Bank Victoria International Tbk. (BVIC). Informasi tersebut disampaikan manajemen perseroan melalui keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Senin (1/9).
Penandatanganan perjanjian berlangsung pada Jumat (29/8), dengan nilai fasilitas kredit mencapai Rp200 miliar. Kredit yang diberikan berbentuk Demand Loan atau Money Market-Line dengan jangka waktu selama 12 bulan. Namun, tidak disebutkan tujuan penggunaan dari fasilitas kredit tersebut.
“PT Buana Finance Tbk. telah menandatangani Perjanjian Fasilitas Kredit dengan PT Bank Victoria International Tbk. sehubungan dengan pemberian fasilitas Demand Loan (Money Market-Line) kepada Perseroan sebesar Rp200 miliar,” tulis manajemen Buana Finance.
Lebih jauh, manajemen menambahkan tidak ada dampak material dari kejadian, informasi, atau fakta material terhadap kondisi keuangan maupun hukum dan keberlangsungan usaha. Sementara itu, industri perusahaan pembiayaan masih mencatatkan pertumbuhan hingga Juni 2025, baik dari sisi laba maupun penyaluran pembiayaan.
Di sisi lain, industri perusahaan pembiayaan atau multifinance masih mencatatkan pertumbuhan positif hingga Juni 2025. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan laba industri multifinance mencapai Rp11,51 triliun, naik 0,81% secara tahunan (year on year/YoY).
Anggota Dewan Komisioner sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan OJK, Agusman, menyampaikan piutang pembiayaan pada semester I/2025 tumbuh 1,96% (YoY) menjadi Rp501,83 triliun. Tingkat risiko kredit tercermin dari non-performing financing (NPF) gross sebesar 2,55% dan NPF net sebesar 0,88%.
“Piutang multifinance diproyeksikan akan tetap tumbuh positif 2025 ini, meskipun terdapat risiko lebih rendah pertumbuhannya dari proyeksi semula 8%—10%, sehingga diperlukan peningkatan piutang pembiayaan yang lebih besar ke depan,” katanya pada Senin (4/8).
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiranto beranggapan bahwa laba industri multifinance per Juni 2025 hanya mampu mencapai 0,8% karena sisi piutang pembiayaan tak menyentuh target yang ada.
“[Pertumbuhan piutang] 1,96% nah itulah penyebabnya, Kan kita menargetkan kurang lebih sekitar 6%—8%, tetapi kita hanya tumbuh segitu, ya, jadi tentu akan terkena dampaknya terhadap pertumbuhan laba,” katanya kepada Bisnis, Senin (4/8).
Adapun, lanjutnya, piutang pembiayaan ini tidak bisa mencapai target karena adanya penurunan daya beli. Belakangan lesunya daya beli masyarakat tergambar dalam fenomena rojali alias rombongan jarang beli. Banyak masyarakat yang menginginkan kendaraan, tetapi tidak sanggup membeli atau mereka menjadi rohana alias rombongan hanya tanya.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































