BPJS Ketenagakerjaan atau BP Jamsostek mencatatkan peningkatan signifikan dalam hasil investasi per kuartal III-2024, dengan total hasil investasi mencapai Rp 38,45 triliun. Deputi Komunikasi BPJS Ketenagakerjaan, Oni Marbun, menyampaikan bahwa angka ini mengalami kenaikan sebesar 8,44% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Hasil investasi tersebut berasal dari dana kelolaan yang dikelola di berbagai instrumen investasi, dengan total dana kelolaan mencapai Rp 776,8 triliun, meningkat 13,22% dibandingkan tahun lalu. Oni menjelaskan bahwa komposisi dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan per kuartal III-2024 terdiri dari beberapa program, di antaranya Jaminan Hari Tua (JHT) sebesar Rp 484,5 triliun, Jaminan Kecelakaan Kerja (JKK) Rp 65,44 triliun, dan Jaminan Pensiun (JP) Rp 182,31 triliun.
Seluruh dana tersebut ditempatkan dalam berbagai instrumen investasi, dengan proporsi 12,98% di deposito, 73,17% di surat utang, 8,31% di saham, 5,20% di reksadana, 0,26% di properti, dan 0,07% di penyertaan. Oni memproyeksikan bahwa dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan akan terus tumbuh seiring dengan bertambahnya jumlah peserta dalam lima program yang ada, yaitu JHT, JP, JKK, JKM, dan JKP.
Dia juga mencatat bahwa dana kelolaan JHT menjadi yang terbesar, sejalan dengan profil liabilitas jangka panjangnya. Dukungan bonus demografi yang sedang dirasakan Indonesia, dengan usia peserta produktif mencapai 149,46 juta jiwa atau 54,20% dari total populasi, diperkirakan akan semakin memperkuat pertumbuhan dana kelolaan tersebut.
Dengan hasil investasi yang terus meningkat dan pertumbuhan dana kelolaan yang stabil, BPJS Ketenagakerjaan menunjukkan komitmennya untuk menjaga kesejahteraan peserta melalui pengelolaan dana yang transparan dan akuntabel.
































