Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat posisi strategis Indonesia di kancah regional Asia Tenggara. Langkah nyata tersebut terlihat jelas dalam perhelatan The 13th ASEAN National Focal Point for Veterinary Products (ANFPVP) yang diselenggarakan secara daring pada Senin (7/9/2026).
Pertemuan penting tingkat regional ini dipimpin oleh Viet Nam sebagai ketua sidang, serta dihadiri oleh perwakilan dari berbagai Negara Anggota ASEAN. Kehadiran delegasi lintas negara ini bertujuan untuk menyelaraskan standar kesehatan hewan, pengawasan produk veteriner, serta memperkuat keamanan pangan di kawasan.
Focal point Indonesia dari Kementan, Liys Desmayanti dan Ketut Karuni N. Natih, menyampaikan proses koreksi dan perbaikan terkait reassessment NVDAL, revisi terhadap ASEAN manual/standar untuk pengujian vaksin hewan, serta memberikan masukan dan penegasan terkait pedoman penggunaan obat dalam pakan (medicated feed) yang sudah disusun oleh Thailand dan Singapura.
Salah satu agenda utama yang paling disorot dalam pertemuan ini adalah keberhasilan Indonesia dalam proses re-akreditasi laboratorium. National Veterinary Drug Assay Laboratory (NVDAL) atau yang kita kenal sebagai BBPMSOH yang berlokasi di Gunungsindur, Bogor, sukses menjalani penilaian ulang (reassessment) sebagai Laboratorium Rujukan ASEAN untuk Pengujian Vaksin Hewan.
Keberhasilan re-akreditasi ini didukung oleh berbagai perbaikan menyeluruh yang telah dilakukan sebelumnya. Mulai dari perbaikan fasilitas dan bangunan laboratorium termasuk pemasangan kamera pengawas (CCTV) di fasilitas hewan dan laboratorium, renovasi ruangan agar memenuhi standar keselamatan hayati (biosafety), hingga analisis beban kerja guna memastikan ketersediaan staf yang memadai dan berkelanjutan.
Pencapaian gemilang tersebut mendapat apresiasi luas dari para delegasi negara sahabat. Perwakilan pimpinan sidang memuji komitmen Indonesia dalam menjaga standar kualitas tertinggi pada fasilitas pengujian veteriner guna menjamin efektivitas pencegahan penyakit hewan menular strategis di kawasan ASEAN.
Pakar Veteriner dari Departemen Pengembangan Peternakan Thailand, Julaporn Srinha, menyampaikan apresiasi atas sinergi yang terjalin selama masa keketuaan Thailand. Ia menegaskan pentingnya forum regional ini dalam memperkuat sistem regulasi produk veteriner.
“Kegiatan ANFPVP ini sangat penting sebagai wadah regional untuk meningkatkan kerja sama di bidang produk veteriner dan vaksin, sekaligus memperkuat sistem regulasi, standar mutu, serta kolaborasi di antara otoritas pengawas nasional kita,” ungkap Julaporn Srinha.
Semangat kolaborasi tersebut turut dipertegas oleh pimpinan sidang dari tuan rumah Viet Nam, Le Thi Hue, selaku Wakil Kepala Divisi Pakan Tenak dan Kedokteran Hewan. Ia menekankan perlunya menjaga momentum kerja sama teknis antarnegara anggota ASEAN.
“Kita harus terus mempertahankan momentum dalam memperkuat sistem regulasi, melindungi kesehatan masyarakat, serta mendukung inovasi kesehatan hewan melalui pendekatan One Health yang berkelanjutan di kawasan regional,” ujar Le Thi Hue dalam sambutannya.
Puncak dari rangkaian pertemuan ini menghasilkan keputusan krusial bagi Indonesia. Pertemuan secara resmi menyetujui untuk menyampaikan Laporan Penilaian Ulang ke tingkat di atasnya guna mendapatkan pengesahan formal.
Hasil sidang memutuskan untuk meminta ASEAN Sectoral Working Group on Livestock (ASWGL) memberikan endorsement, serta meminta SOM-AMAF agar memberikan wewenang kepada Sekretaris Jenderal ASEAN guna menandatangani Sertifikat Persetujuan resmi.
Sertifikat tersebut nantinya akan mengukuhkan NVDAL sebagai laboratorium rujukan resmi ASEAN untuk pengujian mutu berbagai jenis vaksin hewan. Vaksin-vaksin tersebut mencakup Newcastle disease, Marek’s disease, Infectious Laryngotracheitis, Infectious Bronchitis, Egg drop syndrome, Fowl Cholera, dan Haemophilus paragallinarum.
Hasil keputusan strategis ini rencananya akan langsung dibawa ke dalam pembahasan lanjutan dan agenda endorsement pada rapat virtual ASEAN Sectoral Working Group for Livestock (ASWGL) yang dijadwalkan berlangsung pada Selasa (8/9/2026).
Selain isu laboratorium rujukan, pertemuan ANFPVP ke-13 juga membahas berbagai topik penting lainnya. Mulai dari pembaruan standar vaksin hewan edisi ketiga, pedoman pakan bermedikasi, hingga strategi bersama dalam memerangi resistensi antimikroba (Antimicrobial Resistance / AMR) berbasis pendekatan One Health.
Melalui pencapaian ini, Kementan membuktikan komitmen kuatnya dalam mendukung diplomasi kesehatan hewan internasional. Diakuinya kembali NVDAL sebagai rujukan ASEAN tidak hanya mendongkrak kredibilitas Indonesia, tetapi juga mengamankan subsektor peternakan nasional dari ancaman penyakit strategis lintas batas.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































