Penguatan subsektor peternakan menjadi bagian penting dalam upaya pemerintah mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan nasional. Tidak hanya dituntut mampu meningkatkan produksi protein hewani, sektor peternakan juga diarahkan untuk membangun ekosistem usaha yang terintegrasi, meningkatkan kesejahteraan peternak, membuka lapangan kerja, serta memberikan nilai tambah dari hulu hingga hilir. Dalam konteks tersebut, pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi (HAT) menjadi salah satu langkah strategis yang sekaligus membutuhkan dukungan teknologi, tata kelola, dan sumber daya manusia (SDM) yang semakin kompeten.
Penguatan ekosistem tersebut terus didorong melalui sinergi Kementerian Pertanian (Kementan) dan PT Berdikari. Salah satunya dilakukan melalui koordinasi persiapan sosialisasi dan bimbingan teknis (bimtek) Program HAT yang digelar di kantor Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH), Senin (7/9/2026). Pertemuan tersebut dipimpin Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, sebagai bagian dari persiapan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan secara terpadu hingga ke tingkat peternak.
Program HAT sendiri dirancang untuk mendukung empat pilar kebijakan nasional, yakni swasembada pangan, program Makan Bergizi Gratis (MBG), ketahanan energi, dan hilirisasi industri. Posisi subsektor peternakan menjadi semakin strategis karena selain berperan menyediakan sumber protein hewani, pengembangannya juga dapat menjadi penggerak ekonomi masyarakat pedesaan sekaligus menciptakan lapangan kerja baru.
Hary Suhada menekankan bahwa pengembangan ayam secara terintegrasi tidak cukup hanya mengandalkan peningkatan produksi. Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada kemampuan membangun ekosistem yang menghubungkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, BUMN, penyuluh, perbankan, pelaku usaha hingga peternak lokal.
“Program Hilirisasi Ayam Terintegrasi ini bukan hanya berbicara mengenai peningkatan produksi, tetapi bagaimana membangun ekosistem peternakan dari hulu hingga hilir secara terintegrasi. Karena itu, kolaborasi pemerintah, Berdikari, penyuluh, dan peternak sangat penting agar program ini benar-benar memberikan dampak bagi peningkatan kesejahteraan peternak,” ujar Hary Suhada.
Untuk memperkuat basis produksi tersebut, HAT diarahkan melalui pengembangan klaster tahap pertama di enam provinsi, yakni Nusa Tenggara Barat (NTB), Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Lampung, Gorontalo, dan Kalimantan Timur. Pengembangan klaster ini diharapkan tidak hanya menciptakan pemerataan sentra produksi, tetapi juga memastikan ketersediaan bahan pangan dan protein hewani, terutama untuk mendukung kebutuhan program MBG.
Dalam membangun ekosistem HAT, masing-masing pihak memiliki peran yang saling melengkapi. Kementan berperan dalam aspek regulasi, pengembangan SDM, infrastruktur, serta penelitian dan pengembangan. Sementara itu, Danantara dan BUMN mendukung berbagai kebutuhan industri, mulai dari pakan, obat-obatan, GPS/PS/FS, rumah potong hewan unggas (RPHU), hingga fasilitas cold storage. Dukungan perbankan, UMKM, dan peternak lokal juga menjadi bagian penting untuk memastikan ekosistem tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan.
Dari sisi SDM, PT Berdikari menilai kesiapan pelaku di lapangan menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan program. Agung S. Mukti, General General Manager Project Management Officer PT Berdikari (Persero), mengatakan pembangunan fasilitas dan penguatan infrastruktur harus berjalan beriringan dengan peningkatan kapasitas manusia yang mengelolanya. Dengan SDM yang memiliki pengetahuan dan keterampilan memadai, teknologi serta standar peternakan modern diharapkan dapat diterapkan secara optimal.
“Berdikari melihat program Hilirisasi Ayam Terintegrasi sebagai sebuah ekosistem yang harus dibangun bersama. Kami siap berkolaborasi dengan Kementerian Pertanian, penyuluh, dan peternak agar transfer pengetahuan dan penerapan teknologi di lapangan berjalan dengan baik, sehingga klaster yang dibangun dapat produktif dan berkelanjutan,” kata Agung S. Mukti.
Karena itu, sosialisasi dan bimtek HAT tidak diarahkan sekadar sebagai forum penyampaian informasi, tetapi sekaligus menjadi sarana Train the Trainer (TOT) untuk memperkuat kapasitas SDM di lapangan. Para penyuluh dan peternak yang mengikuti kegiatan diharapkan dapat menjadi agen perubahan atau pioneer yang meneruskan pengetahuan kepada peternak lainnya, mulai dari penerapan Good Farming Practice (GFP), perizinan berbasis risiko, hingga prosedur sertifikasi GBP/GFP. Penerapan GFP sendiri mencakup berbagai aspek teknis, seperti penggunaan teknologi kandang closed house, pengelolaan pakan dan air minum berkualitas, penanganan brooding, serta manajemen pencegahan penyakit.
Melalui penguatan SDM yang berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur dan integrasi rantai usaha, Kementan dan Berdikari berharap HAT dapat membentuk ekosistem perunggasan yang semakin mandiri, modern, produktif, dan berdaya saing. Pada akhirnya, sinergi pemerintah pusat dan daerah, BUMN, penyuluh, pelaku usaha, serta peternak lokal diharapkan tidak hanya memperkuat produksi ayam nasional, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan peternak dan mendukung terwujudnya kedaulatan pangan nasional.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































