Resmikan Perpustakaan Baru di Gedung Bersejarah, Wamenkeu/Menkeu Dorong Integrasi Digital dan Fisik

Di tengah peringatan Hari Oeang Republik Indonesia ke-80, Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara meresmikan Perpustakaan Kementerian Keuangan yang direlokasi di gedung bersejarah, Gedung A.A. Maramis, Jakarta pada Jumat (30/10).

Dalam kesempatan tersebut, Menkeu menekankan pentingnya transformasi perpustakaan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) agar tidak hanya menjadi ruang penyimpanan koleksi fisik, tetapi juga berkembang sebagai pusat pengetahuan yang mengintegrasikan koleksi konvensional dan digital. Perkembangan dunia digital menghadirkan berbagai jejak informasi yang perlu dikurasi dan dikelola agar dapat menjadi bagian dari memori kolektif institusi dan memastikan pengetahuan lintas generasi tetap terpelihara.

“Saya minta nanti teman-teman yang menjadi punggawa dari perpustakaan ini memikirkan bagaimana cara dengan Pak Sekjen, sehingga kalau orang datang ke sini, dia sebenarnya tidak hanya terbatas penglihatannya kepada benda fisik yang ada di sini, tetapi sesungguhnya dia masuk ke dalam suatu memori kolektif yang ada di dunia fisik maupun ada secara virtual,” ungkap Menkeu.

Menkeu meminta agar konsolidasi perpustakaan Kemenkeu diarahkan pada tiga langkah utama, yakni mengintegrasikan koleksi fisik dari masa lalu, melakukan digitalisasi terhadap koleksi tersebut, serta mengkurasi berbagai informasi dan dokumen yang tersebar di dunia maya. Ke depan, perpustakaan diharapkan dapat menghadirkan pengalaman yang lebih luas bagi pengunjung baik pegawai maupun masyarakat umum.

Selain itu, Menkeu juga menyampaikan empat arahan kepada para pengelola perpustakaan. Pertama, untuk menjadikan perpustakaan sebagai ruang belajar yang hidup. Perpustakaan tidak cukup hanya memiliki tampilan fisik yang menarik, tetapi juga harus ramai dengan aktivitas intelektual, seperti diskusi, pembelajaran, pengembangan kompetensi, dan ruang kontemplasi. Renovasi ruang perpustakaan pun diharapkan tetap memperhatikan prinsip pengelolaan cagar budaya yang baik.

Kedua, menyajikan pengetahuan secara visual, menarik, dan mudah dipahami. Kurasi informasi diperlukan agar koleksi yang tersedia dapat memberikan nilai tambah dan memudahkan pengunjung memahami berbagai pengetahuan yang disajikan.

Ketiga, memanfaatkan teknologi untuk memperluas akses terhadap pengetahuan. Digitalisasi dan pemanfaatan teknologi perlu dilakukan agar koleksi semakin mudah ditemukan dan dijangkau oleh banyak orang, tanpa mengesampingkan pemeliharaan koleksi fisik.

Keempat, membangun budaya berbagi pengetahuan di lingkungan Kemenkeu. Budaya berbagi pengetahuan tersebut juga diharapkan dapat memperkuat hubungan antargenerasi, antarbidang keahlian, dan antarunit kerja. Dengan demikian, pengalaman dan pemikiran para pendahulu dapat terus dipelajari serta dikembangkan oleh generasi penerus.

“Pada akhirnya kita tidak hanya mewarisi gedung, kita tidak hanya mewarisi aset, dan tidak hanya mewarisi sistem dari para pendahulu, kita juga mewarisi pemikiran, mewarisi nilai, dan mewarisi yang paling penting, mewarisi tanggung jawab dari para pendahulu kita,” pungkas Menkeu.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email [email protected]

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img