Indonesia Perluas Akses Pasar Filipina, Kementan Dorong Ekspor Produk Peternakan

Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat diplomasi ekonomi di subsektor peternakan sebagai strategi membuka akses pasar internasional bagi produk peternakan Indonesia.

 

Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, menyampaikan apresiasi atas hubungan baik yang selama ini terjalin antara Indonesia dan Filipina, khususnya atas respons positif Pemerintah Filipina terhadap upaya pembukaan akses pasar produk peternakan Indonesia. Menurutnya, kunjungan ini menjadi kesempatan penting bagi delegasi Filipina untuk melihat secara langsung kesiapan industri peternakan nasional dalam memenuhi standar kesehatan hewan dan keamanan pangan yang diakui secara internasional.

 

“Indonesia memiliki komitmen kuat untuk menghadirkan produk peternakan yang aman, sehat, dan berkualitas sesuai standar internasional. Melalui kunjungan ini kami berharap kepercayaan Filipina terhadap sistem kesehatan hewan dan industri peternakan Indonesia semakin meningkat, sehingga peluang kerja sama perdagangan dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi kedua negara,” ujar Makmun saat menerima kunjungan delegasi Department of Agriculture (DA) Filipina di Kantor Kementan, Jakarta, Rabu (5/8/2026).

 

Pertemuan tersebut menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kepercayaan kedua negara terhadap sistem kesehatan hewan dan keamanan pangan masing-masing. Di sisi lain, kunjungan ini juga diharapkan membuka peluang yang lebih besar bagi ekspor produk unggas, vaksin, dan obat hewan Indonesia ke pasar Filipina.

 

Chief Veterinary Officer of the Philippines, Constante J. Palabrica, menegaskan bahwa hubungan kerja sama Indonesia dan Filipina di subsektor peternakan telah terjalin dengan baik selama bertahun-tahun. Menurutnya, potensi perdagangan kedua negara masih sangat besar dan perlu terus diperkuat melalui penerapan standar biosekuriti dan kesehatan hewan yang tinggi.

 

“Kami berharap kunjungan ini semakin memperkuat hubungan perdagangan antara kedua negara. Biosecurity dan animal health merupakan faktor penting dalam setiap kerja sama perdagangan produk peternakan, sehingga kami ingin melihat langsung bagaimana sistem tersebut diterapkan di Indonesia,” ungkap Constante.

 

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Kesehatan Hewan Kementan, Hendra Wibawa, menjelaskan bahwa Indonesia secara konsisten memperkuat sistem pengendalian Avian Influenza melalui pelaksanaan Influenza Virus Monitoring (IVM) yang dilakukan dua kali setiap tahun. Selain itu, Indonesia juga telah menerapkan sistem kompartementalisasi sesuai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 28 Tahun 2008 dan standar World Organisation for Animal Health (WOAH) sebagai upaya memperkuat jaminan kesehatan hewan sekaligus meningkatkan kepercayaan negara tujuan ekspor.

 

“Penerapan kompartementalisasi menjadi salah satu instrumen penting dalam pengendalian HPAI. Dengan penerapan standar nasional dan internasional tersebut, Indonesia terus meningkatkan jaminan kesehatan hewan, memperkuat pengendalian penyakit, serta memperluas akses pasar internasional bagi komoditas unggas dan produk turunannya,” jelas Hendra.

 

Tidak hanya kesehatan hewan, aspek keamanan pangan asal hewan juga menjadi perhatian utama dalam pertemuan tersebut. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Kementan, I Ketut Wirata, memaparkan penerapan konsep ASUH (Aman, Sehat, Utuh, dan Halal) sebagai fondasi penyelenggaraan keamanan pangan asal hewan di Indonesia. Pendekatan tersebut dijalankan melalui sistem Safe From Farm to Fork, yakni pengawasan terpadu mulai dari peternakan, proses transportasi, rumah potong dan pengolahan, hingga produk diterima oleh konsumen.

 

Ketut menjelaskan bahwa sistem tersebut diperkuat melalui sertifikasi Nomor Kontrol Veteriner (NKV), penerapan kesejahteraan hewan, registrasi produk hewan, serta pengawasan dan analisis risiko pada seluruh rantai produksi pangan asal hewan.

 

“Keamanan pangan tidak hanya ditentukan pada produk akhir, tetapi dibangun sejak proses budidaya di peternakan hingga produk diterima konsumen. Karena itu, penerapan prinsip ASUH melalui pendekatan Safe From Farm to Fork menjadi komitmen Indonesia untuk memastikan setiap produk pangan asal hewan memenuhi standar keamanan, mutu, dan kesehatan yang diakui secara internasional,” tegas Ketut.

 

Dukungan terhadap peningkatan ekspor juga disampaikan Badan Karantina Indonesia yang menegaskan komitmennya untuk terus mempercepat pelayanan sertifikasi ekspor produk peternakan di pelabuhan maupun bandara. Langkah tersebut diharapkan mampu memperlancar arus perdagangan sekaligus meningkatkan daya saing produk peternakan Indonesia di pasar global.

 

Melalui pertemuan bilateral ini, Kementerian Pertanian optimistis hubungan Indonesia dan Filipina di bidang peternakan akan semakin erat. Kolaborasi yang dibangun tidak hanya membuka peluang pasar yang lebih luas bagi produk peternakan Indonesia, tetapi juga memperkuat kerja sama dalam pengendalian penyakit hewan, peningkatan keamanan pangan asal hewan, serta mendorong perdagangan yang berkelanjutan dan saling menguntungkan bagi kedua negara.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img