Langkah serius dalam membangun ketahanan pangan yang merata dan terjangkau nampak dari bagaimana pemerintah memperhatikan daerah terpencil dan terluar yang relatif memiliki keterbatasan akses terhadap pangan.
“Kita tidak boleh hanya berbicara dari Jakarta. Saya datang ke sini untuk melihat langsung, mendengar langsung, dan langsung memutuskan apa yang harus dikerjakan. Ada program jangka pendek, ada jangka panjang. Dua-duanya kita jalankan,” ujar Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) yang juga Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman saat melakukan kunjungan sekaligus menyerahkan bantuan pangan di Alor, Nusa Tenggara Timur, Sabtu (8/8/2026).
Untuk menjawab kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek, pemerintah memastikan intervensi pangan tetap hadir di Alor. Sebanyak 37.338 Penerima Bantuan Pangan (PBP) mendapatkan bantuan beras untuk alokasi Juli, Agustus, dan September 2026. Setiap PBP menerima 10 kilogram beras per bulan atau total 30 kilogram selama tiga bulan.
Intervensi tersebut merupakan bagian dari program bantuan pangan beras tahap kedua secara nasional yang mencakup 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) dengan total alokasi mencapai 997,2 ribu ton beras.
Namun, bantuan pangan bukan satu-satunya jawaban. Dalam jangka panjang, ketahanan pangan Alor dibangun dengan memperkuat kemampuan masyarakat menghasilkan pangan sekaligus meningkatkan pendapatan dari potensi ekonomi lokal.
Karena itu, pemerintah melalui Kementerian Pertanian menyiapkan dukungan berupa benih, alat dan mesin pertanian, serta pompa untuk meningkatkan kapasitas produksi. Pengembangan komoditas strategis dan bernilai ekonomi seperti kakao, kelapa, dan jambu mete juga didorong sebagai bagian dari upaya membangun sumber penghidupan masyarakat yang lebih berkelanjutan.
Langkah tersebut sejalan dengan potensi pertanian Nusa Tenggara Timur yang terus berkembang. Data Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras untuk konsumsi penduduk di NTT pada 2025 mencapai 567,18 ribu ton, meningkat 36,81 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Peningkatan produksi ini menjadi modal penting untuk memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus mengurangi kerentanan terhadap gangguan pasokan dari luar wilayah.
Di sisi lain, tantangan kesejahteraan masyarakat masih membutuhkan perhatian. Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menjadi penopang utama perekonomian Alor dengan kontribusi 31,90 persen pada 2025. Namun, persentase penduduk miskin di daerah tersebut pada Maret 2025 masih mencapai 18,29 persen, atau sekitar 38,68 ribu orang.
Artinya, penguatan pangan di Alor tidak dapat dipisahkan dari penguatan ekonomi masyarakat. Produksi pangan pada akhirnya memberikan manfaat ganda, yakni memastikan kebutuhan pangan tersedia sekaligus menciptakan pendapatan bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha pangan lokal.
Alor menunjukkan bahwa wajah ketahanan pangan Indonesia tidak seragam. Wilayah dengan sentra produksi menghadapi tantangan berbeda dengan wilayah kepulauan yang menghadapi persoalan konektivitas dan biaya distribusi. Karena itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem pangan dari produksi hingga distribusi agar peningkatan produksi nasional benar-benar bermuara pada dua hal, yaitu pangan tersedia dan masyarakat mampu mengaksesnya.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News































