Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan subsektor peternakan nasional melalui inovasi, kolaborasi, dan diseminasi teknologi di bidang pakan ternak. Upaya ini dinilai menjadi kunci penting dalam menghadapi tantangan perubahan iklim yang berdampak langsung pada ketersediaan pakan di lapangan.
Direktur Pakan Kementan, Tri Melasari, menegaskan bahwa sinergi lintas sektor antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, dan peternak perlu terus diperkuat agar ketahanan pakan nasional tetap terjaga.
Hal tersebut disampaikan saat membuka Webinar Pakan Series #7 Tingkat Nasional, yang digelar pada Senin (22/6/2026).
Menurutnya, musim kemarau yang terjadi setiap tahun kerap menimbulkan tekanan terhadap subsektor peternakan, mulai dari penurunan produksi hijauan pakan, penurunan kualitas pakan, hingga meningkatnya biaya pemeliharaan ternak. Kondisi ini menuntut adanya langkah antisipatif yang terencana, terukur, dan berkelanjutan.
“Direktorat Pakan berkomitmen untuk terus mendorong inovasi, kolaborasi, dan diseminasi teknologi dalam bidang pakan ternak. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dunia usaha, serta peternak menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan akibat perubahan iklim dan dinamika sektor peternakan,” ujar Tri Melasari.
Dalam forum tersebut, juga dibahas berbagai strategi menghadapi musim kemarau secara komprehensif. Di antaranya meliputi pengembangan dan optimalisasi lahan pakan, budidaya hijauan yang adaptif terhadap kondisi kering, konservasi pakan melalui teknologi silase dan hay, pemanfaatan limbah pertanian sebagai pakan alternatif, serta penguatan kelembagaan dan kemitraan dalam penyediaan pakan.
Sementara itu, Guru Besar Departemen Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan Fakultas Peternakan IPB University sekaligus Pakar Tim Ahli Pakan Kementerian Pertanian, Prof. Luki Abdullah, memaparkan bahwa berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau 2026 diperkirakan mulai berlangsung pada April hingga Juni di sebagian besar wilayah Indonesia.
Puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Juli hingga September 2026, dengan intensitas tertinggi pada bulan Agustus. Kondisi ini menunjukkan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi musim kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal.
Menurut Prof. Luki, situasi tersebut harus diantisipasi dengan memperkuat sistem penyediaan pakan berbasis sumber daya lokal serta memperluas penerapan teknologi pengawetan pakan.
“Pengembangan kebun hijauan pakan, pemanfaatan lahan marginal untuk tanaman pakan, serta penyimpanan cadangan pakan sejak musim hujan merupakan langkah strategis yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah, pelaku usaha peternakan, dan kelompok peternak,” jelasnya.
Prof. Luki, yang dikenal sebagai pelopor pengembangan hijauan pakan Indigofera serta inovator pakan berkelanjutan di Indonesia, menekankan bahwa kesiapsiagaan menghadapi kemarau harus dilakukan sejak dini. Dengan demikian, ketersediaan pakan dapat tetap terjaga dan dampak kekeringan terhadap produktivitas ternak dapat diminimalkan.
Melalui kolaborasi multipihak dan penerapan teknologi pakan yang tepat, Kementerian Pertanian optimistis ketahanan pakan ternak nasional dapat terus diperkuat. Hal ini sekaligus menjadi fondasi penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional yang berkelanjutan di tengah tantangan perubahan iklim.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































