Upaya meningkatkan produksi dan kualitas produk peternakan nasional tidak hanya bergantung pada peternak, tetapi juga pada akses terhadap teknologi, investasi, dan inovasi yang mampu menjawab tantangan sektor peternakan saat ini. Melalui pameran Indo Livestock 2026, berbagai inovasi dan peluang kerja sama dipertemukan untuk mendukung peningkatan produktivitas peternakan, memperkuat ketahanan pangan asal hewan, serta mendorong kesejahteraan peternak di Indonesia.
Kehadiran perusahaan teknologi, produsen pakan, penyedia peralatan peternakan, hingga pelaku kesehatan hewan diharapkan dapat mempercepat adopsi inovasi di tingkat peternak, sehingga berdampak pada peningkatan produktivitas, efisiensi usaha, dan kualitas produk peternakan yang dihasilkan.
Sekretaris Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Nuryani Zainuddin, menegaskan bahwa pembangunan peternakan memerlukan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, asosiasi, hingga peternak sebagai pelaku utama di lapangan.
Nuryani menekankan bahwa kemajuan subsektor peternakan tidak dapat dicapai oleh pemerintah saja. Menurutnya, diperlukan kolaborasi yang melibatkan dunia usaha, akademisi, asosiasi, hingga peternak agar inovasi dan investasi dapat terus berkembang.
“Pemerintah membutuhkan mitra, pemerintah membutuhkan dunia usaha yang menghadirkan investasi dan inovasi. Pemerintah juga membutuhkan para akademisi yang menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Pemerintah juga membutuhkan asosiasi yang memperkuat kapasitas dan jejaring pelaku usaha, serta pemerintah membutuhkan peternak sebagai pelaku utama yang menggerakkan sektor ini dari hulu sampai dengan hilir,” tegas Nuryani dalam Executive Gathering di NICE PIK 2, Tangerang, Rabu (17/6/2026).
Sementara itu, Sales Manager PT Napindo Media Ashatama, Agnes Nilam Sunardi, menyampaikan bahwa penyelenggaraan Indo Livestock 2026 berhasil mencatat sejumlah capaian penting. Tahun ini, pameran diikuti sekitar 600 perusahaan dari 30 negara dan menghadirkan tujuh paviliun negara yang menampilkan beragam teknologi, produk, dan solusi terkini bagi industri peternakan serta kesehatan hewan.
“Tahun ini kami telah mencapai target dengan mengumpulkan sebanyak 600 perusahaan yang berasal dari 30 negara dan ada tujuh pavilion negara yang hadir serta capaian baru yakni diselenggarakannya Indo Livestock Grand Championship, kompetisi domba indoor pertama dan terbesar di Asia Tenggara,” kata Agnes.
Melihat antusiasme yang tinggi, penyelenggara memastikan keberlanjutan agenda ini sebagai platform utama pengembangan industri peternakan nasional. Agnes menyampaikan bahwa pada tahun ganjil mendatang, Indo Livestock akan kembali hadir di Surabaya pada 21–23 Juli 2027 di Grand City Convex dengan target partisipasi 300 perusahaan dari 30 negara dan sekitar 15 ribu pengunjung. Penyelenggaraan tersebut diharapkan semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan industri peternakan dan kesehatan hewan di kawasan Asia Tenggara.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News)
































