Garuda Indonesia Jajaki Pembelian 50 Pesawat Baru dari Boeing, Perkuat Strategi Penyehatan Bisnis

Dalam upaya mempercepat pemulihan dan pertumbuhan bisnis, PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk tengah menjajaki kerja sama strategis dengan perusahaan manufaktur pesawat asal Amerika Serikat, Boeing. Maskapai penerbangan nasional ini berencana untuk menambah hingga 50 unit pesawat jet baru yang sesuai dengan kebutuhan pangsa pasar dalam salah satu upaya penyehatan perusahaan.

Direktur Utama Garuda Indonesia, Wamildan Tsani, menjelaskan bahwa pihaknya saat ini sedang melakukan komunikasi intensif dengan Boeing. Negosiasi tersebut difokuskan pada pengadaan pesawat yang sesuai dengan kebutuhan pasar dan strategi ekspansi rute Garuda Indonesia. “Rencana tersebut merupakan salah satu strategi perseroan untuk penyehatan Garuda Indonesia dalam jangka panjang,” ujarnya.

Langkah ini merupakan bagian dari transformasi bisnis Garuda Indonesia yang difokuskan pada penguatan armada dan optimalisasi jaringan penerbangan dalam lima tahun ke depan. Wamildan mengungkapkan, sumber pendanaan untuk pengadaan pesawat tersebut telah diselaraskan dengan rencana restrukturisasi keuangan perseroan yang telah disetujui oleh Menteri BUMN Erick Thohir dan para pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 30 Juni 2025.

Tak hanya menjalin komunikasi dengan Boeing, Garuda Indonesia juga tengah berkoordinasi dengan beberapa calon investor dan pemberi dana potensial guna memperkuat struktur pembiayaan. Menurutnya, pembelian pesawat tersebut akan menunjang transformasi bisnis Garuda Indonesia dari aspek jaringan dan ketersediaan alat produksi melalui rasionalisasi jaringan rute yang berdasarkan profitability uplift potential dan strategic network.

Kemudian, ekspansi unit pesawat yang sejalan dengan permintaan pasar dengan tetap menjaga efisiensi atas biaya operasi. Diharapkan hal tersebut bisa mengoptimalkan pendapatan perseroan. “Saat ini perseroan dan Boeing melanjutkan komunikasi secara intensif terkait dengan detail kebutuhan pesawat sesuai dengan pangsa pasar termasuk pengirimannya,” ujarnya.

Meski masih membukukan kerugian, kinerja keuangan Garuda Indonesia pada kuartal I/2025 menunjukkan perbaikan. Perusahaan mencatat rugi bersih sebesar US$76,48 juta atau sekitar Rp1,26 triliun (asumsi kurs Rp16.603 per dolar AS), menurun dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$87,03 juta atau Rp1,44 triliun.

Penurunan kerugian tersebut didorong oleh meningkatnya pendapatan usaha sebesar 1,62% secara tahunan (year-on-year/yoy), yakni menjadi US$723,56 juta atau setara Rp12,01 triliun, dari sebelumnya US$711,98 juta pada kuartal I/2024. Pendapatan terbesar Garuda Indonesia berasal dari layanan penerbangan yang mencapai US$668,56 juta, disusul jasa pemeliharaan pesawat sebesar US$95,36 juta, dan operasi lainnya sebesar US$93,7 juta. Adapun, GIAA mencatatkan beban usaha yang naik 2,19% yoy menjadi US$718,35 juta pada tiga bulan pertama 2025, dibandingkan US$702,92 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img