PT BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN) sukses membukukan kinerja keuangan yang solid sepanjang paruh pertama tahun 2025. Perusahaan multifinance ini mencetak laba bersih sebesar Rp762,2 miliar, tumbuh 11,14% secara tahunan (year on year/yoy), di tengah perlambatan industri otomotif dan tekanan ekonomi nasional.
Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan di Jakarta, manajemen BFI Finance menjelaskan bahwa pertumbuhan laba tersebut ditopang oleh peningkatan portofolio piutang pembiayaan yang tumbuh positif. Total pendapatan perusahaan tercatat sebesar Rp3,30 triliun, naik 6,21% yoy. Di sisi lain, total beban perusahaan tercatat sebesar Rp2,36 triliun, meningkat 4,27% yoy.
Efisiensi operasional juga membaik, ditandai dengan turunnya rasio beban operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO) dari 72,83% menjadi 71,50%. Penurunan ini dipengaruhi oleh pengelolaan beban bunga yang lebih terkendali serta peningkatan provisi yang tetap terjaga secara proporsional.
Kinerja BFI Finance pada semester I-2025 juga tercermin dari peningkatan piutang pembiayaan yang dikelola (managed receivables) sebesar 14,2% yoy menjadi Rp25,6 triliun. Capaian ini jauh melampaui rata-rata industri multifinance nasional yang hanya mencatat pertumbuhan piutang sebesar 2,83% yoy hingga Mei 2025, menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Penyaluran pembiayaan baru turut mengalami lonjakan signifikan, meningkat 19,9% yoy menjadi Rp 10,9 triliun. Portofolio pembiayaan BFI Finance masih didominasi oleh sektor otomotif, yang menyumbang 76% dari total piutang, melalui skema refinancing dan kredit pembelian kendaraan roda empat melalui showroom rekanan.
Selain itu, segmen pembiayaan alat berat dan mesin menyumbang 14,9%, diikuti oleh pembiayaan berjaminan sertifikat properti sebesar 5,2%, dan pembiayaan syariah sebesar 3,9%.
Meski ekspansi terus dilakukan, BFI Finance tetap mampu menjaga kualitas pembiayaan. Rasio pembiayaan bermasalah (Non-Performing Financing/NPF) gross tercatat sebesar 1,63%, dan NPF net berada di angka 0,30% per Juni 2025. Keduanya masih lebih baik dibandingkan rata-rata industri yang mencatat NPF gross sebesar 2,57% pada periode yang sama. Tingkat coverage atas NPF pun tercatat solid, mencapai 2,4 kali dari nilai NPF bruto, dengan gearing ratio tetap rendah di angka 1,3x.
Manajemen BFI Finance menyatakan, kinerja keuangan sampai pada semester I-2025 terbilang cukup baik dan diimbangi dengan manajemen risiko yang prudent. Pencapaian itu menjadi bukti bahwa perusahaan beradaptasi dan terus bertahan dengan resiliensi yang mumpuni di tengah gejolak perekonomian dan daya konsumsi masyarakat yang masih tertahan.
Fundamental bisnis perusahaan yang solid membuktikan mampu menjaga stabilitas kinerja sehingga tetap mencetak pertumbuhan. Hingga akhir Juni 2025, total aset tumbuh sebesar 4,3% yoy menjadi Rp 25,3 triliun. Sementara itu, return on asset (RoA) dan return on equity (RoE) masing-masing sebesar 7,5% dan 14,5%.
Presiden Direktur BFI Finance, Sutadi menyatakan, industri multifinance tengah mengalami berbagai tekanan dan risiko penurunan kualitas pembiayaan, sebagai akibat dari melemahnya daya beli karena pendapatan masyarakat yang menurun. Oleh karena itu, pertumbuhan yang dicatat oleh perusahaan saat ini adalah sebuah optimisme.
“Ketidakpastian global dan dinamika pasar domestik sedikit banyak menguji daya tahan kami dalam menjaga kestabilan pertumbuhan bisnis. Alhasil, kami pun terus proaktif dan adaptif dalam menghadapi perubahan pasar,” ujar Sutadi.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































