Tekanan ekonomi global memberikan dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi domestik, termasuk tantangan likuiditas. Namun, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI tetap menunjukkan ketahanan yang kuat dengan menjaga stabilitas kinerja keuangan. Keberhasilan ini didorong oleh kelancaran dan keamanan operasional di setiap layanan perbankannya.
Fondasi resiliensi BRI juga tak lepas dari penerapan tata kelola yang baik atau Good Corporate Governance (GCG) yang diterapkan secara konsisten.
Corporate Secretary BRI, Agustya Hendy Bernadi, menyatakan bahwa BRI, seperti halnya bank swasta, turut serta dalam program penjaminan simpanan yang dikelola oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS).
“Selain itu, BRI juga terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Bank Indonesia. Partisipasi dan tata kelola tersebut memberikan kepastian kepada nasabah bahwa dana mereka tetap aman sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” ujar Hendy dalam keterangan tertulisnya pada Jumat, 21 Februari 2025.
Baca Juga: Strategi BRI 2025: Mendorong Pertumbuhan UMKM yang Inklusif dan Berkelanjutan
Sebelumnya, pada 12 Februari 2025, BRI telah mengumumkan capaian kinerja keuangannya sepanjang tahun 2024. Bank ini berhasil membukukan laba bersih konsolidasian sebesar Rp60,64 triliun.
Dari sisi penyaluran kredit, BRI mencatat total kredit sebesar Rp1.354,64 triliun, tumbuh 6,97% secara tahunan (yoy), dengan seluruh segmen pinjaman menunjukkan pertumbuhan positif. Kredit tersebut didominasi oleh segmen UMKM yang mencapai 81,97% dari total kredit BRI, atau senilai Rp1.110,37 triliun.
Selain itu, kualitas kredit juga mengalami perbaikan, yang tercermin dari rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) yang turun dari 2,95% pada akhir Desember 2023 menjadi 2,78% pada akhir Desember 2024. BRI juga memperkuat pencadangan dengan NPL Coverage sebesar 215,01%.
Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), BRI berhasil menghimpun simpanan sebesar Rp1.365,45 triliun. Dana murah (CASA) mendominasi penghimpunan dana dengan proporsi mencapai 67,30% atau setara Rp918,98 triliun.
Kinerja positif BRI juga ditopang oleh likuiditas yang memadai dan permodalan yang kuat, dengan rasio Loan Deposit Ratio (LDR) di level 88,85% dan rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 26,63%.
Hendy menegaskan bahwa pencapaian ini membuktikan bahwa dengan tata kelola yang baik dan fundamental bisnis yang kuat, BRI mampu menjaga stabilitas kinerja di tengah tantangan ekonomi global.
“Kinerja positif BRI juga berkontribusi dalam menjaga stabilitas industri perbankan, yang berdampak positif terhadap perekonomian nasional,” tutupnya.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News
































