PESATNYA perkembangan fitur mobile banking dan adopsi budaya cashless telah menyebabkan masyarakat semakin meninggalkan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM). Data dari Bank Indonesia per Agustus 2024 menunjukkan penurunan signifikan, dengan volume transaksi ATM menurun 8,5% tahun ke tahun (YoY) menjadi 581,33 juta transaksi, dibandingkan 635,23 juta transaksi pada periode yang sama tahun lalu. Nilai transaksi juga turun 8,4% YoY, mencapai Rp 590,77 triliun dari sebelumnya Rp 644,78 triliun.
Melihat tren ini, beberapa bankir mulai mempertimbangkan kembali penambahan unit ATM. Mesah Roni Ginting, Head of Division Retail Digital Product and Partnership Bank Negara Indonesia (BNI), menyatakan bahwa nasabah kini lebih memilih layanan digital seperti mobile banking untuk kebutuhan transfer dan pembayaran tagihan. “Tren cashless yang semakin diterima masyarakat turut mempercepat pengurangan frekuensi penggunaan uang tunai melalui ATM,” ungkap Mesah dikutip dari kontan, Selasa (22/10).
Sebagai respons, BNI memilih untuk tidak mengurangi jumlah ATM, tetapi fokus pada pengoptimalan mesin yang ada dengan penempatan di lokasi yang memiliki volume transaksi tinggi. Saat ini, BNI memiliki 13.000 unit mesin ATM dan Cash Recycling Machine (CRM).
Di sisi lain, Bank Tabungan Negara (BTN) juga mencatat bahwa meskipun pertumbuhan transaksi ATM tidak secepat mobile banking, kebutuhan akan uang kartal tetap ada. “Masyarakat masih membutuhkan uang kartal untuk bertransaksi,” kata SEVP Digital Business BTN, Thomas Wahyudi. BTN berencana untuk terus mempertahankan mesin ATM/CRM, dengan evaluasi berkala untuk memastikan layanan optimal bagi nasabah. Saat ini, BTN memiliki lebih dari 2.000 unit ATM/CRM.
Sementara itu, Bank Central Asia (BCA) menegaskan bahwa mesin ATM masih menjadi pilihan penting bagi nasabah dalam melakukan transaksi perbankan. EVP Corporate Communication and Social Responsibility BCA, Hera F. Haryn, mengatakan bahwa mayoritas mesin ATM BCA merupakan jenis CRM yang mendukung berbagai transaksi. “Kami memproyeksikan penggunaan mesin ATM akan terus tumbuh ke depannya selaras dengan prospek perekonomian Indonesia yang terjaga,” tutupnya.
Dengan meningkatnya penggunaan mobile banking, bank-bank di Indonesia beradaptasi dengan memperkuat layanan digital, namun tetap mempertahankan kehadiran mesin ATM untuk memenuhi kebutuhan nasabah yang beragam.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































