InfoEkonomi.ID – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa kinerja ekspor minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya anjlok pada September 2024. Plt. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, mengungkapkan bahwa volume ekspor CPO hanya mencapai 1,49 juta ton, turun dari 1,97 juta ton pada bulan sebelumnya. Penurunan ini terjadi baik secara bulanan maupun tahunan.
Sementara itu, harga CPO di tingkat global mengalami peningkatan, mencapai US$932,05 per ton, naik dari US$898,90 per ton bulan sebelumnya. Namun, kondisi ini berbeda dengan komoditas lainnya seperti batu bara, yang terus melaju. Amalia menambahkan bahwa ekspor batu bara meningkat 2,62% secara bulanan dan 15,04% secara tahunan, sementara ekspor besi dan baja juga mencatatkan kenaikan 10,41% bulanan meskipun turun 4,90% tahunan.
Nilai total ekspor CPO dan turunannya pada September 2024 tercatat sebesar US$1,38 miliar, mengalami penurunan sebesar 21,64% secara bulanan dan 24,75% secara tahunan. CPO dan turunannya memberikan kontribusi sebesar 6,62% dari total ekspor nonmigas Indonesia, yang mencakup batubara dan besi serta baja dengan kontribusi masing-masing sebesar 12,12% dan 10,53%.
Eddy Martono, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), menjelaskan bahwa penurunan ekspor ini disebabkan oleh ketersediaan minyak nabati lain yang lebih murah, seperti minyak bunga matahari. “Minyak nabati lain suplainya bagus dan lebih murah, sehingga konsumen memiliki pilihan,” ujarnya.
Eddy juga mencatat bahwa mayoritas minyak nabati alternatif merupakan tanaman musiman yang sangat tergantung pada kondisi cuaca, sehingga prediksi untuk tahun depan tidak dapat dipastikan. Gapki memprediksi bahwa produksi minyak nabati akan meningkat, meskipun pada semester II/2024 produksi minyak nabati seperti rapeseed dan bunga matahari diperkirakan akan mengalami penurunan.
Dengan kondisi ini, pasar CPO Indonesia masih menghadapi tantangan, meskipun regulasi terkait deforestasi dari Uni Eropa belum berdampak langsung.
































