InfoEkonomi.ID – Permintaan akan solusi kecerdasan buatan (AI) terus meningkat di berbagai sektor industri, termasuk Telkomsel. Dalam upaya meningkatkan efisiensi dan layanan kepada pelanggan, Telkomsel menghadapi tantangan terkait biaya yang diperlukan untuk membangun sistem AI.
Indra Mardiatna, Direktur Network Telkomsel, mengungkapkan bahwa meskipun biaya untuk membangun AI cukup tinggi, hasil yang diperoleh sebanding dengan investasi tersebut. Biaya ini mencakup pelatihan model menggunakan GPU atau TPU, yang biasanya dilakukan di platform seperti Google, AWS, atau Nvidia.
“Dengan strategi yang kita lakukan, kita hanya melakukan pelatihan model yang benar-benar dibutuhkan. Hal ini membantu efisiensi di sisi AI, dan berdampak positif pada biaya, akurasi, dan produktivitas,” jelas Indra saat Media Update Telkomsel Hyper AI di Kantor Telkomsel.
Indra menekankan pentingnya memilih model AI sesuai dengan kebutuhan spesifik untuk mencapai dampak tinggi bagi pelanggan dan perusahaan. Ia juga memperingatkan agar tidak semua pekerjaan manual dialihkan ke AI tanpa pertimbangan, karena dampak positif mungkin belum signifikan.
Baca juga: Telkomsel Tingkatkan Pelayanan Pelanggan dengan Hyper AI
Meskipun Indra tidak mengungkapkan angka pasti yang dihabiskan Telkomsel untuk ekosistem AI, laporan dari Clutch menunjukkan bahwa biaya pengembangan proyek AI bervariasi. Untuk proyek yang lebih sederhana, biayanya sekitar US$5.000 (Rp 75 juta), sementara solusi yang lebih canggih bisa melebihi US$500.000 (Rp 7 miliar). Mayoritas proyek pengembangan AI berada dalam kisaran US$10.000 hingga US$49.000, yang mencakup pengembangan perangkat dasar seperti chatbot dan model pembelajaran mesin sederhana.
Dengan strategi yang tepat, Telkomsel berharap dapat memanfaatkan AI secara maksimal untuk meningkatkan layanan dan efisiensi operasional.
































