InfoEkonomi.ID – Meskipun ekonomi syariah Indonesia memiliki potensi besar, literasi keuangan syariah di kalangan masyarakat ternyata masih rendah. Hal ini diungkapkan oleh Direktur Departemen Ekonomi dan Keuangan Syariah Bank Indonesia, Rifki Ismal, dalam acara Simposium Keuangan dan Ekonomi Syariah yang digelar oleh Forum Jurnalis Wakaf dan Zakat Indonesia (Forjukafi) di Hotel Kartika Chandra, Jakarta, Kamis (26/9).
Menurut Rifki, survei Bank Indonesia pada tahun 2022 menunjukkan bahwa hanya 28% masyarakat yang memahami ekonomi keuangan syariah. “Sebagian besar dari mereka yang memahami keuangan syariah adalah dosen dan pegawai negeri sipil (PNS), sementara pegawai non-PNS menunjukkan tingkat pemahaman yang lebih rendah,” ungkap Rifki.
Lebih lanjut, Rifki menjelaskan bahwa terdapat variasi pemahaman keuangan syariah di berbagai provinsi di Indonesia. Provinsi dengan mayoritas penduduk Muslim serta keberadaan banyak pesantren atau ulama cenderung memiliki literasi keuangan syariah yang lebih tinggi. Namun, tantangan besar masih ada, terutama di provinsi dengan tingkat keislaman yang lebih rendah.
“Untuk meningkatkan literasi ini, diperlukan upaya kolaboratif dari berbagai pihak, termasuk jurnalis, agar pemahaman tentang keuangan syariah bisa lebih menyebar luas dan tepat sasaran,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Rifki juga menggarisbawahi posisi ekonomi syariah Indonesia yang berada di urutan ketiga dunia setelah Malaysia dan Arab Saudi. Namun, potensi besar ini tidak diiringi dengan literasi ekonomi syariah yang tinggi di dalam negeri. Oleh karena itu, Rifki mengajak semua pihak untuk berperan aktif dalam menggenjot pengembangan ekonomi syariah, baik dari segi inklusi maupun literasi.




























