BI Pertimbangkan Penyesuaian Tarif BI-FAST di Masa Depan

InfoEkonomi.ID – Bank Indonesia (BI) tengah mempertimbangkan kemungkinan penyesuaian tarif BI-FAST di masa mendatang. Direktur Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran BI, Ryan Rizaldy, menyatakan bahwa meskipun saat ini belum ada perubahan, penyesuaian tarif dapat terjadi seiring perkembangan kondisi ekonomi.

“Penyesuaian ke depan tidak tertutup kemungkinan. Namun fokus dalam jangka pendek ini adalah bagaimana kita bisa membangun sinergi yang baik antara infrastruktur yang disediakan oleh Bank Indonesia dan industri,” kata Ryan, sebagaimana dikutip Antara (25/8).

- Advertisement -

Ryan menambahkan bahwa penyesuaian tarif BI-FAST akan bergantung pada berbagai faktor, termasuk variabel makroekonomi seperti inflasi. “Tentunya masalah penyesuaian harga itu akan sangat bergantung pada banyak hal, ada yang bagaimana kondisi ekonomi yang melingkupi. Bahkan itu sampai variabel makro juga kan, jadi inflasi dan segala macam nanti akan mempengaruhi pertimbangan-pertimbangan kami dalam menetapkan harga,” ujarnya.

Baca juga : Perkuat Stabilitas, BI Pertahankan BI Rate Sebesar 6,25%

Ia menuturkan, saat ini BI-FAST tetap menarik bagi masyarakat karena tarifnya terjangkau yang sebesar Rp2.500 dan memiliki fitur 24 jam per hari real time. “Yang pasti bahwa saat ini sepertinya masyarakat sangat sangat enjoy dengan skema harga yang berlaku sekarang. Fokus kami lebih kepada bagaimana membangun sinergitas,” tutur Ryan.

- Advertisement -

BI-FAST adalah sistem pembayaran ritel nasional yang dibangun oleh Bank Indonesia untuk memfasilitasi transfer dana secara real-time, aman, dan efisien. BI-FAST dapat digunakan untuk transfer kredit dan debit, dan dapat diakses 24/7 melalui cabang, mobile/internet, dan kedepan juga akan melayani transaksi menggunakan QR code, ATM, dan EDC.

Dari sisi nilai besar, transaksi BI-RTGS meningkat 15,36 persen (yoy) sehingga mencapai Rp15.450 triliun. Dari sisi ritel, volume transaksi BI-FAST tumbuh 65,08 persen (yoy) mencapai 301,41 juta transaksi per Juli 2024.

Disamping itu, BI memperkirakan transaksi keuangan digital akan tumbuh eksponensial dan mencapai 10,05 miliar transaksi pada 2030 atau naik 14 kali lipat. “Dalam perhitungan kami sampai dengan tahun 2030 ke depan itu transaksi digital bisa berlipat 14 kali dari 0,6 miliar transaksi bisa naik menjadi 10,05 transaksi,” kata Ryan.

Ia menuturkan yang menggerakkan pertumbuhan transaksi keuangan digital tersebut adalah lonjakan transaksi digital akibat pergeseran struktur demografis dengan dominasi generasi Y, Z dan Alpha, dan prospek ekonomi yang membaik.

- Advertisement -

“Siapa yang menggerakkan? Generasi Y dan Z yang saat ini pun sudah dominan di ekonomi kita. Mereka ini yang nanti akan makin dominan perannya di ekonomi bahkan sampai dengan tahun 2030 bahkan nanti ada generasi Alpha,” ujarnya.

Generasi Y, Z dan Alpha akan lebih dominan melakukan preferensi pembayaran secara digital sehingga mendorong peningkatan transaksi keuangan digital. “Ini yang akan men-drive kenaikan transaksi 14 kali lipat dan itu ditambah dengan prospek ekonomi yang memang diperkirakan akan membaik ke depan,” tutur Ryan.

Untuk mengakomodasi kenaikan transaksi yang besar itu, maka dibutuhkan infrastruktur digital yang andal dan berdaya tahan. “Apakah BI-FAST atau mungkin infrastruktur yang dijalankan oleh swasta seperti itu sanggup tidak meng-handle transaksi yang naik 14 kali lipat? Kami meragukan. Jadi kami di Bank Indonesia bilang kayaknya ini kita harus melakukan sesuatu agar kenaikan 14 kali lipat ini bisa dijawab dan direspons dengan baik oleh infrastruktur yang saat ini kita miliki,” katanya.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img