InfoEkonomi.ID – Sederet bank dengan layanan digital terus menjadi sorotan utamanya soal kemungkinan rasio kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) yang terus meningkat.
PT Bank Amar Indonesia Tbk atau Amar Bank dan Bank Jago menjadi contoh digital yang terus mengupayakan perbaikan kualitas pembiayaan dengan penurunan NPL
Diketahui, Amar Bank saat ini menargetkan untuk bisa menekan rasio kredit bermasalah atau NPL gross mencapai 5-6% pada tahun 2024.
Adapun, berdasarkan presentasi perusahaan NPL nett Bank Amar sendiri tercatat mengalami penyusutan 38 basis poin (bps) menjadi 1,29% pada 2023 dari sebelumnya 1,67% 2022.
Senior Vice President of Finance Amar Bank David Wirawan mengatakan kenaikan NPL gross adalah suatu yang tidak bisa dihindari, lantaran perseroan masih fokus mendukung segmen UMKM yang dikenal memiliki risiko tinggi sembari terus meningkatkan inklusi keuangan.
“Tapi kita menjaga NPL nett, karena dengan [rendahnya] NPL nett kita bisa meng-cover risiko dan tetap profit,” ujarnya yang dilansir dari Bisnis, pada Kamis (18/4).
Tahun ini, pihaknya juga membidik segmen corporate commercial yang juga sejalan dengan peningkatan konsumsi masyarakat dan tren digitalisasi.
“Kehadiran corporate commercial ini memang bunganya tidak besar, namun risiko NPL relatif lebih rendah,” ujarnya.
Lebih lanjut, kata David, tahun ini adopsi layanan digital dan perluasan kemitraan strategis bakal ditingkatkan untuk mendorong inovasi serta jangkauan layanan yang lebih luas.
Tak hanya Bank Amar, penyusutan NPL juga terjadi pada Bank Jago yang membukukan NPL gross sebesar 0,84% pada 2023 dari sebelumnya 1,82% dan NPL net dari 0,55% menjadi 0,05% pada 2023.
Head of Sustainability & Digital Lending Bank Jago Andy Djiwandono menyebut pihaknya terus menjaga kehati-hatian dan menerapkan skema mitigasi risiko yang tepat seiring tingginya risiko penyaluran pinjaman, Dia menyebut pemilihan mitra P2P lending yang tepat menjadi kunci bagi Bank Jago untuk menjaga kualitas penyaluran kredit.
“Kami menambahkan partner [fintech P2P lending] baru juga tidak asal-asalan. Kalau kita lihat dua tahun pertama mungkin [mitra] nambahnya luar biasa, tapi kemarin [tahun 2023] nambahnya pelan-pelan, lebih selektif,” ujarnya usai agenda Forum Jurnalis Jagoan, Rabu (21/2/2024).
Kata Andy, dengan makin selektif, artinya perseroan terus meninjau kerja sama mitra yang perlu diperpanjang ataupun dihentikan. Selain menyalurkan kredit melalui skema channeling, Bank Jago juga memiliki layanan penyaluran kredit langsung melalui aplikasi sendiri.
“Kita sudah ada [skema penyaluran pinjaman langsung]. Tapi porsinya masih kecil,” kata Andy.
































