InfoEkonomi.ID – Direktur Utama PT Food Station Tjipinang Jaya, Pamrihadi Wiraryo berharap dengan adanya pembatasan alat dan kapasitas produksi untuk satu entitas usaha bisa mencegah para pengusaha penggilingan besar untuk tidak mematikan para penggilingan kecil.
Selain itu, Food Station juga berharap Kementan bisa merangkul entitas penggilingan kecil agar tetap bisa hidup dan tumbuh bersama.
Dia mengatakan, dari puluhan ribu jumlah penggilingan di Indonesia diperkirakan memiliki kapasitas produksi beras Inlet (dari bahan baku) Gabah Kering Panen (GKP) 94 juta ton per tahun.
“Namun, volume produksi GKP dari petani per tahun diperkirakan hanya sebesar 54 juta ton, sehingga terjadi saling rebutan bahan baku di antara penggilingan padi tersebut,” ungkapnya.
Dia menambahkan, bagi pengusaha penggilingan yang memiliki modal dan kapasitas mesin yang besar, tentu saja akan banyak menyerap bahan baku dari para petani dengan jumlah yang sangat besar sehingga penggilingan kecil tidak kebagian bahan baku yang pada akhirnya mereka akan bangkrut.
“Prinsipnya, kami sangat mendukung kebijakan Kementan untuk meningkatkan volume produksi gabah kering melalui kemudahan dalam pemberian pupuk bersubsidi untuk petani, pemberian KUR pengusaha penggiling padi nasional serta konversi lahan untuk menjadi lahan pertanian,” tandasnya.
Seperti diketahui, Food Station menghadiri pertemuan antara Pengusaha Pedagang Beras dan Penggilingan Padi (Perpadi) dengan Menteri Pertanian RI, Andi Amran Sulaiman di ruang kerja Kementan Gedung A Kementerian Pertanian, Selasa (7/11).
Pertemuan dengan Kementerian Pertanian (Kementan) dalam rangka mendukung program (Kementan) yang akan mendorong pertumbuhan produksi padi dan jagung melalui pemanfaatan lahan rawa yang ada di seluruh Indonesia.
































