Kapal Bantu Rumah Sakit (BRS) buatan PT PAL Indonesia (Persero), KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991, mengevakuasi 11 warga negara Papua Nugini yang hanyut di perairan Samudera Pasifik setelah kapal yang mereka tumpangi mengalami kerusakan mesin. Evakuasi dilakukan saat kapal TNI Angkatan Laut itu berlayar menuju Vanuatu.
Setelah dievakuasi, kesebelas warga tersebut menjalani pemeriksaan kesehatan awal. Mereka juga mendapat makanan, air minum, pakaian, selimut, dan tempat untuk beristirahat. Peristiwa tersebut menunjukkan fungsi kapal BRS yang tidak hanya mendukung kebutuhan medis dalam operasi TNI Angkatan Laut, tetapi juga dapat digunakan untuk evakuasi dan berbagai misi kemanusiaan di wilayah perairan.
KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 merupakan salah satu dari dua kapal BRS yang dibangun PT PAL Indonesia (Persero) untuk TNI AL. Kapal lainnya adalah KRI dr. Radjiman Wedyodiningrat-992. Kapal BRS dirancang untuk mendukung operasi yang membutuhkan kemampuan pelayanan kesehatan dan bantuan kemanusiaan. Kapal tersebut memungkinkan personel dan tenaga medis memberikan pelayanan kesehatan sekaligus mendukung evakuasi dan penanganan masyarakat dalam situasi darurat.
Untuk menjalankan fungsi tersebut, kapal BRS dilengkapi fasilitas pelayanan medis, ruang perawatan, ruang operasi, serta peralatan kesehatan yang setara dengan rumah sakit tipe C. Fasilitas itu memungkinkan pelayanan kesehatan diberikan di wilayah perairan yang sulit dijangkau melalui jalur darat.
Penggunaan KRI dr. Wahidin Sudirohusodo-991 dalam evakuasi 11 warga Papua Nugini juga memperlihatkan bahwa platform pertahanan dapat memiliki fungsi yang lebih luas. Kapal yang dibangun untuk mendukung operasi TNI AL dapat digunakan untuk memberikan pertolongan ketika terjadi keadaan darurat di laut.
Sebagai kapal yang dibangun di dalam negeri, BRS juga menjadi bagian dari kemampuan PT PAL Indonesia (Persero) dalam mengembangkan platform yang memenuhi kebutuhan operasional TNI AL sekaligus mendukung berbagai jenis misi. Kemampuan tersebut turut memperkuat kontribusi industri pertahanan nasional terhadap kesiapan armada dan kemandirian maritim Indonesia.
Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), Kaharuddin Djenod, mengatakan kapal BRS menunjukkan bahwa kekuatan maritim tidak selalu berkaitan dengan peperangan. Menurutnya, kemampuan sebuah platform pertahanan juga dapat dilihat dari manfaat yang diberikan ketika masyarakat menghadapi situasi darurat.
“Kapal BRS adalah gambaran bahwa kekuatan maritim tidak selalu hadir dalam konteks peperangan. Dalam kondisi tertentu, kekuatan tersebut justru hadir untuk menyelamatkan, memberikan pelayanan kesehatan, membantu masyarakat, dan membangun persahabatan antarnegara,” kata Kaharuddin.
Melalui pembangunan kapal BRS, PT PAL Indonesia (Persero) terus mengembangkan kemampuan industri perkapalan nasional untuk memenuhi kebutuhan pertahanan sekaligus mendukung berbagai misi kemanusiaan di wilayah perairan.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































