Kemenperin Gandeng Perguruan Tinggi Bali Perkuat Daya Saing IKM Fesyen dan Kriya

Di tengah perubahan preferensi konsumen, perkembangan teknologi, dan persaingan pasar yang semakin dinamis, pelaku industri kecil dan menengah (IKM) dituntut untuk semakin adaptif dalam membaca peluang pasar. Kemampuan tersebut perlu diikuti dengan inovasi desain dan pengembangan produk yang mampu menjawab kebutuhan konsumen sekaligus menciptakan nilai tambah.

Kementerian Perindustrian terus memperkuat kapasitas dan daya saing IKM melalui berbagai program pembinaan yang mencakup pengembangan sumber daya manusia, inovasi produk, peningkatan kemampuan usaha, serta perluasan akses pasar dan jejaring bisnis. Industri fesyen dan kriya menjadi salah satu sektor yang potensial untuk terus dikembangkan karena ditopang kreativitas, kekayaan budaya, serta sumber daya lokal Indonesia.

Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kemenperin Reni Yanita mengatakan, pengembangan produk IKM perlu semakin berorientasi pada kebutuhan pasar. Oleh karena itu, pelaku IKM perlu memahami karakter dan preferensi konsumennya sejak tahap awal perancangan produk.

“Pengembangan produk tidak cukup hanya berangkat dari pertanyaan mengenai apa yang dapat diproduksi, tetapi juga perlu mempertimbangkan siapa konsumennya, apa kebutuhannya, serta peluang apa yang dapat dijawab melalui produk tersebut. Dalam proses inilah desain memiliki peran yang penting,” ujar Reni dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (1/10).

Sebagai bagian dari upaya tersebut, Kemenperin melalui Balai Pemberdayaan Industri Fesyen dan Kriya (BPIFK) menyelenggarakan Kick Off Design Canvas & Design Maker 2026 pada 17 September 2026 secara hibrida di Auditorium BPIFK, Badung, Bali. Mengusung tema “Read the Market, Design the Product: Menjawab Kebutuhan Konsumen melalui Desain”, kegiatan tersebut diarahkan untuk membantu IKM fesyen dan kriya mengembangkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar melalui pendekatan berorientasi konsumen.

Program Design Canvas dan Design Maker 2026 menerapkan pendekatan co-creation yang mempertemukan pelaku IKM fesyen dan kriya dengan mahasiswa. Pelaksanaannya melibatkan Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) Institut Seni Indonesia (ISI) Bali serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Udayana. Kolaborasi tersebut mencakup pendampingan mulai dari pengembangan ide dan desain hingga penguatan aspek pasar dan pengembangan usaha. Program ini juga mendapat dukungan CAP Bali sebagai mitra kolaborator.

Menurut Reni, kolaborasi antara IKM dan perguruan tinggi menjadi penting karena dapat mempertemukan pengalaman pelaku usaha dengan pengetahuan, kreativitas, serta perspektif baru dari kalangan akademisi dan mahasiswa.

“Melalui komposisi peserta yang terdiri dari IKM dan mahasiswa, kami berharap tercipta proses pembelajaran dua arah. Mahasiswa memperoleh pengalaman dalam menyelesaikan kebutuhan nyata industri, sementara IKM memperoleh perspektif, ide, dan alternatif pengembangan produk yang dapat dimanfaatkan untuk mendukung pengembangan usahanya,” tutur Reni.

Reni berharap kolaborasi tersebut tidak berhenti pada pelaksanaan kegiatan, tetapi dapat menghasilkan gagasan dan prototipe yang selanjutnya dikembangkan menjadi produk bernilai tambah dan memiliki peluang pasar.

“Design Canvas dan Design Maker memberikan ruang bagi IKM untuk melihat kembali produknya dari perspektif konsumen, sekaligus membuka kesempatan bagi mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan dan kreativitasnya pada kebutuhan nyata industri. Kami berharap interaksi tersebut dapat menghasilkan alternatif desain dan produk yang dapat dikembangkan lebih lanjut oleh IKM,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala BPIFK Dickie Sulistya Aprilyanto menjelaskan, Design Canvas dan Design Maker dirancang sebagai rangkaian pengembangan produk yang saling berkesinambungan. Melalui Design Canvas, peserta diarahkan untuk menggali potensi IKM, memahami kebutuhan dan preferensi konsumen, serta merumuskan ide dan konsep desain berdasarkan peluang pasar.

“Selanjutnya, Design Maker mengarahkan gagasan tersebut ke tahap pembuatan prototipe dan penyempurnaan produk dengan mempertimbangkan aspek desain, fungsi, serta potensi pengembangannya menjadi produk bernilai tambah,” jelas Dickie.

Kick Off Design Canvas & Design Maker 2026 diikuti sebanyak 70 peserta, yang terdiri atas perwakilan dinas yang membidangi sektor industri di tingkat provinsi dan kabupaten/kota di Bali, pelaku IKM, dosen, serta mahasiswa. Kegiatan tersebut juga menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan akademisi dan pelaku industri kreatif.

Materi yang diberikan meliputi pemahaman kebutuhan dan preferensi konsumen, riset pasar, perumusan konsep desain, hingga penerjemahan gagasan menjadi prototipe dan produk bernilai tambah. Dengan pendekatan tersebut, peserta diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman konseptual, tetapi juga mampu memahami proses pengembangan produk yang dimulai dari identifikasi kebutuhan pasar.

Dickie menambahkan, Kemenperin berharap semakin banyak IKM fesyen dan kriya serta mahasiswa yang dapat memanfaatkan ruang kolaborasi semacam ini. Sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan pelaku industri dinilai dapat mempercepat lahirnya inovasi produk yang memiliki relevansi dengan kebutuhan konsumen.

“Kolaborasi tersebut diharapkan dapat menjadi ruang bagi lahirnya gagasan dan pengembangan produk yang lebih sesuai dengan kebutuhan konsumen, sekaligus memperkuat kapasitas dan daya saing IKM fesyen dan kriya,” pungkas Dickie.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img