Gandeng Denmark, Bapanas Dorong Sektor Ritel Selamatkan Pangan dan Pangkas Food Waste

 Inovasi sektor ritel menjadi salah satu kunci memperluas gerakan penyelamatan pangan di Indonesia. Melalui kolaborasi pemerintah dan dunia usaha, pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi dapat dimanfaatkan kembali, sekaligus memberikan nilai tambah bagi usaha, masyarakat, dan lingkungan.

Upaya tersebut diperkuat Badan Pangan Nasional (Bapanas) bersama Kedutaan Besar Denmark melalui webinar bertajuk “Inovasi dan Praktik Baik di Sektor Ritel untuk Pencegahan dan Pengurangan Sisa Pangan” di Jakarta, Senin (28/9/2026). Forum ini menjadi ruang berbagi pengalaman dan inovasi untuk mendorong praktik penyelamatan pangan yang semakin luas di sektor ritel.

Kegiatan ini merupakan bagian dari kerja sama Pemerintah Indonesia dan Pemerintah Denmark melalui kerangka Strategic Sector Cooperation (SSC) on Food Loss and Waste (FLW), sekaligus rangkaian peringatan International Day of Awareness of Food Loss and Waste (IDAFLW) 2026.

Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menegaskan komitmen pemerintah untuk terus memperkuat kebijakan dan aksi penyelamatan pangan secara terintegrasi melalui pendekatan pentahelix. Menurutnya, sektor ritel memiliki posisi strategis karena terhubung langsung dengan produsen, pemasok, hingga konsumen, sehingga berpotensi memperluas jangkauan gerakan penyelamatan pangan.

“Bapanas terus mendorong peran pelaku usaha dalam upaya penyelamatan pangan, khususnya sektor ritel. Berdasarkan data platform Stop Boros Pangan per 28 September 2026, sebanyak 9,7 persen dari total mitra penyelamatan pangan merupakan sektor ritel. Kami berharap partisipasi ini terus meningkat seiring dengan tumbuhnya kesadaran dan inovasi pelaku usaha. Kami juga terus mendorong sektor ritel untuk melakukan pendataan dan melaporkan aksi penyelamatan pangan yang telah dilakukan,” ujar Nita.

Nita menjelaskan, penyelamatan pangan dapat menjadi bagian dari praktik bisnis yang memberikan nilai tambah. Pangan yang masih layak dan aman dikonsumsi dapat disalurkan kembali melalui kolaborasi dengan bank pangan maupun penggiat penyelamatan pangan, sehingga manfaatnya dapat menjangkau masyarakat yang membutuhkan.

Komitmen tersebut sejalan dengan perluasan jejaring kemitraan Bapanas yang saat ini telah melibatkan sembilan asosiasi pelaku usaha dan 11 bank pangan atau penggiat penyelamatan pangan. Kolaborasi ini menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem penyelamatan pangan yang semakin terintegrasi dan melibatkan berbagai unsur masyarakat.

Penguatan kemitraan juga dilakukan bersama Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) serta Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) melalui inisiatif GRASP 2030. Sebelumnya, Bapanas bersama kedua pihak telah menyelenggarakan forum bisnis “Transformasi Ritel Berkelanjutan” yang mempertemukan pemerintah, pelaku usaha, dan komunitas untuk memperkuat kolaborasi dalam penyelamatan pangan di sektor ritel.

Dalam sambutan pembukanya, Sector Counselor for Food and Agriculture Kedubes Denmark, Ms. Lotte Dam, menyampaikan apresiasi atas antusiasme seluruh peserta. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan webinar pertama dari rangkaian tiga seri webinar yang berfokus pada kolaborasi penanganan food waste.

Dari perspektif dunia usaha, Wakil Ketua Umum Bidang ESG dan Retail Transformation APRINDO, Yuvlinda Susanta, mendorong pelaku ritel untuk menjadikan penyelamatan pangan sebagai bagian dari strategi bisnis berkelanjutan. Menurutnya, langkah tersebut dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR), sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi bagi perusahaan.

Yuvlinda menjelaskan, praktik penyelamatan pangan berpotensi memberikan manfaat bagi dunia usaha, antara lain melalui efisiensi operasional, penghematan biaya pengelolaan dan pembuangan sampah, serta penguatan reputasi perusahaan.

“Ritel memegang peran kunci dalam memberikan intervensi sepanjang rantai pasok pangan untuk menekan food loss and waste. Kami merekomendasikan beberapa langkah yang dapat dilakukan ritel, antara lain menyusun SOP internal donasi pangan, membangun kemitraan dengan bank pangan, serta melakukan pendataan dan pelaporan pangan yang berhasil diselamatkan,” papar Yuvlinda.

Praktik baik dari Denmark turut memperkaya diskusi melalui paparan Sustainability Project Manager Salling Group, Christian Friis. Sebagai salah satu kelompok usaha ritel besar di Denmark dengan lebih dari 2.000 gerai, Salling Group membagikan pengalaman penerapan inovasi dan hierarki penanganan sisa pangan dalam kegiatan operasionalnya.

Christian menjelaskan bahwa berbagai inovasi tersebut telah berkontribusi terhadap penurunan food waste di Salling Group. Berdasarkan data yang disampaikan, persentase food waste berhasil turun dari 2,88 persen pada 2015 menjadi 1,7 persen pada 2025.

“Salling Group telah berhasil menurunkan food waste dari 2,88 persen pada 2015 menjadi 1,7 persen pada 2025. Upaya ini sejalan dengan target SDGs 12.3 untuk mengurangi food waste sebesar 50 persen pada 2030 melalui penerapan hierarki penanganan sisa pangan dan inovasi teknologi,” papar Christian.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inovasi dan penyelamatan pangan dapat berjalan beriringan dengan penguatan keberlanjutan usaha. Bagi sektor ritel, setiap pangan yang berhasil diselamatkan turut memberikan manfaat melalui efisiensi operasional, penguatan hubungan dengan konsumen, serta kontribusi sosial dan lingkungan yang lebih luas.

Sebagai kelanjutan dari kolaborasi tersebut, Bapanas dan Kedutaan Besar Denmark dijadwalkan menyelenggarakan seri webinar berikutnya dengan menyasar sektor hotel, restoran, dan kafe (horeka) pada akhir Oktober 2026, bertepatan dengan momentum Hari Pangan Sedunia.

Melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan berbagai pemangku kepentingan, Bapanas terus mendorong inovasi sektor ritel sebagai bagian penting dari gerakan penyelamatan pangan nasional. Upaya bersama ini diharapkan semakin memperluas manfaat pangan, memperkuat praktik usaha berkelanjutan, serta menghadirkan nilai tambah bagi masyarakat dan lingkungan.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img