Kementerian Pertanian (Kementan) memperkuat teknologi dan inovasi pakan sebagai fondasi peningkatan populasi sapi perah dan produksi susu nasional. Penambahan populasi harus berjalan beriringan dengan kesiapan pakan, mulai dari hijauan, bahan pakan lokal, teknologi pengolahan, sumber benih, hingga bank pakan.
Direktur Pakan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) Kementan, Tri Melasari, mengatakan bahwa pengembangan sapi perah tidak cukup hanya dengan menambah populasi. Ketersediaan pakan yang cukup, berkualitas, aman, seimbang, dan tersedia sepanjang tahun menjadi faktor penting untuk mendukung produktivitas ternak.
“Ketika kita berbicara mengenai peningkatan populasi sapi perah dan produksi susu nasional, maka kita tidak dapat hanya berbicara mengenai pengembangan ternak. Ternak harus datang bersama pakannya. Karena itu, pengembangan pakan menjadi salah satu fondasi utama dalam membangun industri sapi perah yang produktif, efisien, sehat, dan berkelanjutan,” ujar Tri Melasari.
Hal tersebut disampaikan Tri Melasari dalam Seminar Nasional Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia (ISPI) di ICE BSD, Tangerang Selatan, Kamis (17/9/2026), yang membahas teknologi dan inovasi pakan untuk mendukung peningkatan produksi peternakan.
Tri Melasari mengatakan pemerintah telah menyusun peta jalan pemenuhan susu segar nasional hingga 2030. Kebutuhan susu nasional diproyeksikan meningkat dari sekitar 4,68 juta ton pada 2025 menjadi 5,07 juta ton pada 2030. Sementara produksi susu dalam negeri ditargetkan meningkat dari sekitar 0,82 juta ton menjadi 4,68 juta ton, kontribusi produksi domestik diharapkan naik dari sekitar 17,5 persen menjadi 92,4 persen.
Untuk mencapai target tersebut, Kementan mendorong percepatan pengembangan usaha sapi perah melalui penguatan populasi dan produktivitas yang didukung kesiapan pakan, sekaligus membuka ruang investasi dan kolaborasi dengan dunia usaha, koperasi, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya.
“Penambahan populasi tanpa kesiapan pakan justru akan menciptakan persoalan baru. Oleh sebab itu, strategi populasi harus berjalan bersamaan dengan strategi pakan. Setiap penambahan populasi harus dihitung kebutuhan hijauan, konsentrat, lahan, air, tenaga kerja, serta infrastruktur pakan. Dengan pendekatan inilah target peningkatan produksi susu nasional dapat kita capai secara realistis dan berkelanjutan,” tegas Tri Melasari.
Menurut Tri Melasari, Kementan membangun ekosistem pakan melalui tiga prinsip utama, yakni feed security, feed safety, dan feed quality. Ketiganya memastikan pakan tersedia dalam jumlah yang cukup dan berkelanjutan, aman, serta memiliki mutu dan nilai nutrisi yang mendukung produktivitas ternak.
Upaya tersebut mulai menunjukkan perkembangan. Produksi pakan sapi perah meningkat dari sekitar 69,8 ribu ton pada 2022 menjadi 226,6 ribu ton pada 2025. Pada Januari–Juli 2026, produksinya mencapai sekitar 146,5 ribu ton, meningkat sekitar 17,3 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025.
“Peningkatan produksi pakan harus kita lihat bukan hanya dari sisi volumenya. Pakan harus mampu menjawab kebutuhan ternak, tersedia tepat waktu, memenuhi standar mutu, dan memberikan efisiensi ekonomi bagi peternak,” kata Tri Melasari.
Kementan juga mendorong pengembangan pakan berbasis potensi wilayah, termasuk hijauan pakan berkualitas, bahan pakan lokal, serta hasil samping pertanian dan perkebunan yang masih memiliki nilai nutrisi.
Salah satu inovasi yang dikembangkan Kementan adalah bank pakan untuk mengantisipasi fluktuasi ketersediaan hijauan, terutama saat musim kering.
Tri menjelaskan, saat pakan melimpah pada musim penghujan atau masa panen, sebagian pakan dapat dikumpulkan, diolah, diawetkan, dan disimpan sebagai cadangan dalam bentuk silase maupun hay. Dengan cara tersebut, peternak tetap memiliki cadangan ketika memasuki musim kering atau terjadi gangguan produksi hijauan.
“Jadi, bank pakan bukan sekadar tempat menyimpan rumput. Bank pakan adalah instrumen untuk membangun ketahanan pakan di tingkat peternak,” ujar Tri Melasari.
Pada periode 2022–2024, sebanyak 843 unit bank pakan telah dikembangkan di 35 provinsi dan 164 kabupaten/kota. Pengembangan selanjutnya diarahkan untuk menyesuaikan karakteristik dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Selain bank pakan, Kementan memperkuat sistem perbenihan hijauan, pengembangan tanaman pakan berkualitas, perbaikan vegetasi padang penggembalaan, integrasi sapi dengan tanaman perkebunan, pertanian dan kehutanan, serta pemanfaatan lahan melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
“Jangan sampai kita mampu menyediakan ternaknya, tetapi tidak mampu menyediakan pakannya. Oleh sebab itu, benih hijauan harus diposisikan sebagai bagian dari infrastruktur strategis pembangunan peternakan,” ujar Tri Melasari.
Penguatan ekosistem pakan juga membutuhkan peran koperasi. Ketua Umum Gabungan Koperasi Susu Indonesia (GKSI), Dedi Setiadi, menyampaikan bahwa koperasi dapat berperan dalam pengadaan pakan secara kolektif, menjaga mutu dan formulasi, memberikan edukasi, mendukung distribusi hingga kandang, serta memfasilitasi adopsi teknologi.
Dari perspektif perguruan tinggi, Guru Besar Fakultas Peternakan UGM Prof. Budi Prasetyo Widyobroto menekankan pentingnya menerjemahkan hasil riset menjadi teknologi yang benar-benar dapat diterapkan oleh peternak.
Perguruan tinggi memiliki empat peran utama, yaitu menghasilkan riset dan bukti ilmiah, menyiapkan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan, melakukan demonstrasi dan hilirisasi teknologi, serta menyediakan basis ilmiah untuk kebijakan dan standar.
Budi juga mengidentifikasi sejumlah persoalan pakan sapi perah, mulai dari variasi kualitas hijauan, mutu bahan baku konsentrat, manajemen pemberian pakan yang belum presisi, hingga kebutuhan peternak kecil terhadap layanan nutrisi, pengendalian mutu, dan akses teknologi.
Karena itu, hasil penelitian perlu diterjemahkan melalui tahapan yang jelas, mulai dari pengujian laboratorium dan ternak, analisis ekonomi, penyusunan paket teknologi, adopsi oleh koperasi, hingga monitoring berbasis data. Indikatornya dapat mencakup kecernaan, konsumsi bahan kering, produksi dan kualitas susu, hingga biaya produksi per liter.
Kementan mengajak pemerintah daerah, dunia usaha, koperasi, peternak, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan seluruh pemangku kepentingan untuk bergerak bersama membangun sistem pakan yang mandiri, berkualitas, aman, efisien, dan berkelanjutan.
Pada akhirnya, penguatan pakan diarahkan untuk mendukung peningkatan produksi susu, kesejahteraan peternak, penciptaan lapangan usaha, pengurangan ketergantungan terhadap impor, dan penguatan ketahanan pangan nasional.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































