Indonesia memperkuat kolaborasi internasional dalam pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan sumber daya genetik ternak sebagai fondasi pembangunan peternakan yang tangguh menghadapi perubahan iklim. Komitmen tersebut diwujudkan melalui International NGORBIT 2026 (Networking – Global Outreach – Research – Breeding – Innovation – Technology) yang mempertemukan pakar perbibitan ternak dari Indonesia dan berbagai negara dalam forum ilmiah internasional (23/9).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi Kelompok Fungsional Pengawas Bibit Ternak (Wasbitnak) Pusat Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian bersama Wasbitnak Provinsi Sumatera Barat dalam rangka memperingati Hari Peternakan dan Kesehatan Hewan ke-190. Webinar tersebut diikuti sekitar 420 peserta dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara, termasuk Jepang, serta menghadirkan narasumber dari Turki, Nigeria, Palestina, dan Indonesia.
Mewakili Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Ketua Kelompok Ruminansia Perah, Kementerian Pertanian, Argi Argiris mengatakan Indonesia memiliki kekayaan sumber daya genetik ternak yang menjadi modal penting dalam membangun sistem peternakan yang tangguh menghadapi perubahan iklim sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.
“Indonesia sebagai negara megabiodiversitas memiliki kekayaan sumber daya genetik ternak yang harus dikelola secara berkelanjutan melalui Sistem Perbibitan Ternak Nasional. Pengelolaan sumber daya genetik menjadi bagian dari prioritas pembangunan nasional untuk mendukung penyediaan protein hewani sekaligus menjaga keberlanjutan peternakan Indonesia,” ujar Argi.
Argi menambahkan pemerintah terus memperkuat konservasi dan pemuliaan ternak lokal melalui penetapan rumpun ternak, pengembangan wilayah sumber bibit, serta pelestarian plasma nutfah baik di habitat asalnya maupun melalui penyimpanan dan pengelolaan material genetik di lembaga perbibitan. Langkah tersebut juga didukung penerapan standar perbibitan dan budidaya untuk meningkatkan daya saing peternakan Indonesia.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Sumatera Barat, Sukarli mengatakan pelestarian sumber daya genetik ternak tidak hanya berfokus pada konservasi, tetapi juga pemanfaatan berkelanjutan melalui kolaborasi, riset, dan pertukaran pengetahuan antarlembaga maupun antarnegara.
“Konservasi tidak hanya berarti menjaga keberadaan ternak lokal sebagai warisan, tetapi juga memahami karakteristiknya, mempertahankan keragaman genetiknya, meningkatkan performanya secara tepat, dan menciptakan peluang pemanfaatan yang berkelanjutan. Melalui International NGORBIT 2026, kita belajar dari pengalaman, inovasi, dan bukti ilmiah dari berbagai negara untuk diadaptasi sesuai konteks Indonesia,” imbuh Sukarli.
Guru Besar Fakultas Peternakan Universitas Andalas, Firda Arlina mengatakan Ayam Kokok Balenggek merupakan salah satu plasma nutfah unggas lokal Indonesia yang memiliki keunikan genetik sekaligus nilai budaya dan ekonomi yang perlu dijaga keberlanjutannya.
“Ayam Kokok Balenggek bukan hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga keragaman genetik yang tinggi sebagai kekayaan hayati Indonesia. Tantangan terbesar saat ini adalah menjaga populasi dan kemurnian genetiknya melalui seleksi induk, pencatatan silsilah, inseminasi buatan, serta kolaborasi antara pemerintah, akademisi, dan masyarakat,” jelas Firda.
Associate Professor Departemen Ilmu Peternakan, Fakultas Pertanian, Universitas Akdeniz, Turki, Eymen Demir, mengatakan perubahan iklim menjadi tantangan besar bagi sektor peternakan global karena berdampak langsung terhadap produktivitas, reproduksi, dan kesehatan ternak. Menurutnya, pendekatan genetika menjadi salah satu solusi untuk menghasilkan ternak yang lebih adaptif terhadap tekanan lingkungan.
“Genetika menawarkan solusi untuk meningkatkan kemampuan adaptasi ternak terhadap perubahan iklim. Pemanfaatan marker-assisted selection berbasis gen yang berkaitan dengan ketahanan terhadap suhu panas dapat menjadi pendekatan yang lebih efisien dan terjangkau, termasuk bagi peternak skala kecil,” pungkas Eymen.
Melalui International NGORBIT 2026, Indonesia memperkuat jejaring riset, inovasi, dan kolaborasi internasional dalam konservasi serta pemuliaan sumber daya genetik ternak. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu mempercepat pengembangan plasma nutfah ternak lokal agar semakin adaptif terhadap perubahan iklim, meningkatkan produktivitas, dan mendukung terwujudnya peternakan Indonesia yang berdaya saing dan berkelanjutan.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































