Kementan Percepat Hilirisasi Ayam di Bone, Investasi Rp627 Miliar Siap Bangun Ekosistem Peternakan

Kementerian Pertanian mempercepat pengembangan Hilirisasi Ayam Terintegrasi atau HAT di Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, untuk memperkuat produksi protein hewani sekaligus membangun ekosistem usaha peternakan dari hulu hingga hilir.

 

Program tersebut dirancang menghubungkan pembibitan, produksi day old chick atau DOC, pakan, budidaya, pemotongan, penyimpanan dingin, pengolahan hingga pemasaran. Peternak rakyat ditempatkan sebagai bagian utama dalam rantai usaha sehingga memperoleh akses terhadap sarana produksi, teknologi dan pasar.

 

Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan pengembangan hilirisasi harus memberikan manfaat langsung kepada peternak.

 

“Kalau peternak sejahtera, negara akan kuat,” kata Amran saat meninjau kesiapan pengembangan hilirisasi ayam di Bone pada Januari 2026.

 

Pengembangan HAT Bone kembali diperkuat setelah Pemerintah Kabupaten Bone melakukan studi tiru ke Kabupaten Bangli, Bali, Sabtu, 22 Agustus 2026. Rombongan melihat langsung pengelolaan peternakan kelompok yang menghubungkan budidaya ayam dengan penyerapan hasil.

 

Bupati Bone Andi Asman Sulaiman mengatakan pengalaman tersebut akan menjadi salah satu referensi bagi Bone dalam menyiapkan pengembangan HAT.

 

“Kami di Kabupaten Bone sedang bersiap mengembangkan Hilirisasi Ayam Terintegrasi,” kata Andi Asman.

 

Di Bangli, Andi Asman melihat kelompok peternak yang mengelola sekitar 600 ekor ayam dengan tingkat produksi telur sekitar 80 persen. Hasil produksinya telah terserap untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi atau SPPG dan pasar desa.

 

“Kita ingin meniru dan insya Allah terapkan di Bone,” kata Andi Asman.

 

Menurut Kementan, pola tersebut menunjukkan bahwa peningkatan produksi harus berjalan beriringan dengan kepastian pasar. Peternak tidak cukup hanya didorong meningkatkan populasi, tetapi juga harus memperoleh akses terhadap input produksi, teknologi, pendampingan dan pembeli yang jelas.

 

Bone dinilai memiliki modal kuat untuk membangun ekosistem HAT. Selain mempunyai basis peternakan rakyat, kabupaten tersebut merupakan salah satu daerah penghasil jagung yang menjadi bahan baku utama pakan unggas.

 

Luas pertanaman jagung di Bone sebelumnya disebut mencapai sekitar 60 ribu hektare dan pada musim tertentu dapat meningkat hingga sekitar 120 ribu hektare. Potensi tersebut memberi peluang integrasi antara produksi tanaman pangan dan peternakan.

 

Pengembangan HAT Bone telah dimulai melalui groundbreaking pada 6 Februari 2026 di Desa Mappesangka, Kecamatan Ponre. Bone menjadi salah satu lokasi fase pertama pengembangan HAT yang dilaksanakan di enam provinsi.

 

Kawasan sekitar 110 hektare milik PTPN disiapkan untuk mendukung pembibitan, budidaya, pabrik pakan, fasilitas pemotongan unggas, cold storage dan pengolahan produk.

 

Dalam pengembangan tahap awal, PT Berdikari menyebut nilai investasi di Bone mencapai sekitar Rp627 miliar.

 

Investasi tersebut diarahkan untuk membangun tiga unit bisnis utama, yakni Parent Stock Farm berkapasitas sekitar 168 ribu ekor, pabrik pakan atau feed mill berkapasitas sekitar 10 ribu ton per bulan, serta hatchery dengan kemampuan produksi sekitar 500 ribu DOC per minggu.

 

General Manager Corporate Secretary & CSR PT Berdikari A.S. Hasbi Al Islahi mengatakan pengembangan HAT tidak diarahkan sekadar membangun fasilitas produksi.

 

“Konsepnya bukan hanya membangun kandang atau menghasilkan ayam, tetapi membangun ekosistem dari hulu sampai hilir, ” kata Hasbi.

 

Hasbi juga menegaskan posisi peternak rakyat dalam skema tersebut.

 

“Peternak rakyat harus menjadi bagian utama dari ekosistem ini sehingga mereka mendapatkan kepastian usaha, akses input produksi, teknologi, sekaligus pasar,” ujarnya.

 

Kementan menilai pola tersebut sejalan dengan arah kebijakan hilirisasi yang didorong pemerintah. Negara melalui BUMN diperkuat pada sisi hulu untuk menjaga ketersediaan bibit dan pakan, sementara peternak rakyat diperluas perannya pada budidaya dan rantai usaha di hilir.

 

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementan Agung Suganda sebelumnya mengatakan keberhasilan HAT Bone akan menjadi penting bagi pengembangan model serupa di wilayah lain.

 

“Kalau Bone berhasil, Insya Allah tempat lain berhasil,” ujar Agung dalam pembahasan pengembangan HAT pada Mei 2026.

 

Selain meningkatkan produksi, pengembangan tiga unit usaha awal HAT Bone diproyeksikan membuka lebih dari 1.000 lapangan kerja. Pada fasilitas Parent Stock Farm saja, kebutuhan tenaga kerja diperkirakan lebih dari 300 orang.

 

Dampak ekonominya juga diperkirakan meluas ke sektor pengangkutan, logistik, penyedia bahan baku pakan, jasa, UMKM dan industri pengolahan produk peternakan.

 

Pemerintah Kabupaten Bone telah menyatakan dukungan terhadap percepatan program, termasuk dalam aspek perizinan, lahan dan tenaga kerja lokal. Persetujuan Kesesuaian Kegiatan Pemanfaatan Ruang atau PKKPR untuk pengembangan HAT Bone juga telah diserahkan kepada Bupati Bone pada 7 Agustus 2026.

 

Kementan menilai kepastian tata ruang dan perizinan menjadi bagian penting untuk memastikan pembangunan fasilitas memenuhi aspek teknis, lingkungan dan keberlanjutan usaha.

 

PT Berdikari juga melihat Bone berpeluang berkembang menjadi salah satu simpul distribusi produk unggas ke wilayah Indonesia Timur.

 

“Bone harus jadi hub, harus menjadi jembatan untuk mendistribusikan ke Indonesia Timur,” Kata Hasbi.

 

Karena itu, pengembangan kapasitas produksi perlu diikuti dengan penguatan sistem logistik, fasilitas pemotongan, cold storage dan industri pengolahan agar produk unggas dapat didistribusikan lebih luas dengan mutu tetap terjaga.

 

Bagi Kementan, HAT Bone tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan lebih banyak ayam dan telur. Program tersebut harus menciptakan rantai ekonomi baru di daerah, memperkuat pasokan protein hewani, mendukung kebutuhan pangan masyarakat termasuk Program Makan Bergizi Gratis, serta memberikan kepastian usaha kepada peternak.

 

Keberhasilan hilirisasi, menurut Kementan, pada akhirnya tidak hanya diukur dari jumlah fasilitas yang dibangun, tetapi dari peningkatan produktivitas, efisiensi biaya produksi, kepastian pasar, terbukanya lapangan kerja dan meningkatnya pendapatan peternak rakyat.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img