InfoEkonomi.ID – Proyek ekspor listrik berbasis energi baru terbarukan (EBT) ke Singapura dinilai sebagai langkah strategis yang dapat memajukan industri tenaga surya dan rantai pasoknya di Indonesia. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menekankan pentingnya dukungan pemerintah yang konsisten terhadap proyek ini, mengingat kesepakatan antara Indonesia dan Singapura telah tercapai.
Melansir bisnis.com, Fabby mengungkapkan bahwa pemerintah seharusnya tidak ragu-ragu dalam mendukung ekspor listrik hijau, terutama setelah adanya perbedaan pandangan antara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya menyatakan akan mengkaji ulang rencana ekspor ini untuk memprioritaskan kebutuhan dalam negeri.
Proyek kerja sama ini mencakup potensi investasi hingga US$20 miliar (sekitar Rp308 triliun) dan berencana menambah pasokan listrik hijau dari Indonesia untuk Singapura menjadi 3,4 gigawatt (GW). Fabby menambahkan bahwa proses persiapan proyek ini telah dimulai, termasuk pencarian lahan dan studi dampak lingkungan.
Fabby menekankan bahwa pemerintah harus memanfaatkan peluang ini untuk menambah devisa dari sektor EBT. Dengan memproduksi panel surya dan baterai di dalam negeri, Indonesia bisa memberikan nilai tambah yang signifikan. Beberapa perusahaan, termasuk Jinko Solar dan Trina Solar, telah mulai membangun pabrik di Indonesia dengan harapan terlibat dalam proyek ini.
Dia memprediksi potensi kapasitas hingga 15 GW dari proyek industri solar panel di Indonesia, di mana kontrak serapan untuk ekspor ke Singapura sebesar 3,4 GW memberikan jaminan pasar yang jelas. Proyek ini juga dapat mendorong pengembangan industri pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di Indonesia, membuka peluang untuk ekspor modul surya ke negara-negara ASEAN dan Pasifik.
Fabby mengakui pentingnya mempertimbangkan kebutuhan energi nasional, namun menekankan bahwa potensi energi surya Indonesia yang mencapai 3.300 GW seharusnya tidak menjadi alasan untuk menunda ekspor listrik ke Singapura. “Ini adalah kesempatan untuk membangun industri PLTS kita,” pungkasnya.

































