Kesiapan armada TNI Angkatan Laut (TNI AL) dalam berbagai penugasan turut ditopang oleh kemampuan industri pertahanan nasional. PT PAL Indonesia (Persero) mendukung kesiapan tersebut melalui pembangunan, pemeliharaan, perbaikan, hingga pengembangan kapal.
Dalam beberapa waktu terakhir, unsur-unsur TNI AL kembali dikerahkan dalam berbagai operasi pencarian dan pertolongan di laut. Mulai dari operasi SAR KM Virgo Transport 8 di Laut Jawa oleh KRI I Gusti Ngurah Rai (GNR-332), pencarian korban hilang di perairan Selat Sunda, hingga evakuasi korban kecelakaan KM Mutiara Sentosa 2. Dalam misi lainnya, KRI dr. Wahidin Sudirohusodo (WHS-991) berhasil mengevakuasi 11 warga negara Papua Nugini yang hanyut di Samudera Pasifik saat menjalankan misi kemanusiaan menuju Vanuatu.
Berbagai penugasan tersebut menunjukkan bahwa kapal TNI AL tidak hanya hadir sebagai instrumen pertahanan dan penjaga kedaulatan. Dalam situasi darurat, armada juga memiliki peran penting dalam pencarian, pertolongan, evakuasi, dan misi kemanusiaan. Kapal harus berada dalam kondisi andal, sistemnya berfungsi dengan baik, dan kemampuan operasionalnya tetap terjaga ketika sewaktu-waktu dibutuhkan.
Kondisi tersebut tidak dibangun dalam waktu singkat. Sebuah kapal membutuhkan pemeliharaan dan perbaikan secara berkala, pembaruan sistem, integrasi teknologi, serta peningkatan kemampuan agar tetap relevan sepanjang masa operasinya. Karena itu, menjaga kesiapan armada tidak hanya menjadi tanggung jawab pengguna, tetapi juga membutuhkan dukungan industri pertahanan.
Dalam konteks inilah kemitraan TNI AL dan PT PAL menjadi bagian penting dalam membangun kekuatan maritim yang berkelanjutan. Kepala Staf Angkatan Laut (KASAL) Laksamana TNI Muhammad Ali menyebut hubungan TNI AL dan PT PAL sebagai kemitraan strategis dalam membangun industri maritim yang mandiri sekaligus memperkuat kekuatan maritim nasional.
“TNI Angkatan Laut dengan PT PAL merupakan kemitraan strategis, yang sama-sama ingin membangun industri maritim yang mandiri. Sinergi ini sangat penting dalam menciptakan kekuatan maritim yang tangguh. Sampai dengan detik ini, TNI Angkatan Laut merupakan pengguna produk dari PT PAL yang paling banyak,” kata Muhammad Ali saat berkunjung ke PT PAL pada Mei 2026.
Menurut KASAL, lebih dari 50 persen kapal TNI AL merupakan hasil pembangunan maupun kerja sama dengan PT PAL, termasuk dalam aspek pemeliharaan dan perbaikan aset armada.
Direktur Utama PT PAL Indonesia (Persero), Dr. Kaharuddin Djenod, M.Eng., mengatakan membangun kekuatan armada bukan sekadar menghadirkan platform kapal, tetapi juga memastikan kapal memiliki kesiapan dan keandalan yang dibutuhkan dalam setiap penugasan.“Karena itu, kemampuan pembangunan, integrasi teknologi, pemeliharaan, perbaikan, hingga pengembangan teknologi harus terus diperkuat di dalam negeri,” jelasnya. Ia pun menilai pengalaman pengguna di lapangan, juga dapat menjadi referensi untuk meningkatkan teknologi, kompetensi sumber daya manusia, serta kemampuan pemeliharaan dan perbaikan kapal.
Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































