Kementan Percepat Stabilisasi Harga Ayam Hidup di Jawa Barat, Target Rp19.500 per Kg

Kementerian Pertanian (Kementan) mempercepat upaya stabilisasi harga ayam hidup (livebird) di Jawa Barat melalui rangkaian kegiatan yang melibatkan perusahaan perunggasan dan peternak mandiri. Langkah ini dilakukan sebagai respons atas penurunan harga ayam hidup di tingkat peternak akibat penurunan permintaan yang menekan pendapatan pelaku usaha budidaya broiler.

Tahap awal telah dilakukan Rapat Koordinasi dan Penggalangan Komitmen Stabilisasi Harga Ayam Hidup yang diselenggarakan Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak di Cirebon, Kamis (2/7/2026). Pertemuan tersebut menghadirkan perusahaan-perusahaan terintegrasi dan pelaku usaha budidaya broiler wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka dan Kuningan (Ciayumajakuning) sebagai forum untuk menyelaraskan langkah dalam menyeimbangkan pasokan dan mempercepat pemulihan harga di tingkat peternak.

Direktur Perbibitan dan Produksi Ternak, Hary Suhada, menegaskan bahwa stabilitas industri perunggasan hanya dapat dicapai apabila seluruh pelaku usaha memiliki komitmen yang sama dalam mengelola produksi dan menjaga keseimbangan pasar.

“Kementerian Pertanian mengajak seluruh pelaku usaha membangun komitmen bersama dalam menjaga keseimbangan produksi dan pasar. Stabilitas harga hanya dapat terwujud apabila seluruh pihak menjalankan kesepakatan secara konsisten dan mengedepankan kepentingan bersama,” ujar Hary.

Dalam pertemuan tersebut, para peserta menyepakati sejumlah langkah strategis, antara lain penataan jadwal panen agar pasokan tidak menumpuk pada waktu yang sama, pengendalian distribusi Day Old Chick (DOC), penghentian praktik saling menjatuhkan harga (price dumping), serta peningkatan transparansi data stok ayam melalui koordinasi yang lebih intensif.

Kesepakatan tersebut diperkuat melalui penandatanganan komitmen bersama oleh seluruh peserta. Melalui langkah ini, harga ayam hidup di Jawa Barat ditargetkan meningkat secara bertahap hingga mencapai Rp19.500 per kilogram pada 15 Juli 2026, sebelum bergerak menuju Harga Acuan Pembelian (HAP) yang telah ditetapkan pemerintah.

Perwakilan PT Japfa Comfeed Indonesia/Ciomas, Hariyono, menegaskan komitmen perusahaan untuk mendukung kesepakatan tersebut. “Sesuai kesepakatan bersama, kami usahakan di minggu depan harga akan kami stabilkan sesuai kesepakatan. Maksimal pada tanggal 15 Juli 2026 harga sudah berada di Rp19.500 per kilogram,” ujar Hariyono.

Senada dengan itu, Perwakilan PT Charoen Pokphand Indonesia, Deasy Natalia, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah yang difasilitasi Kementerian Pertanian. “keberhasilan pemulihan harga sangat bergantung pada konsistensi seluruh pelaku usaha dalam menjalankan komitmen yang telah disepakati bersama, ” ungkapnya.

Sebagai tindak lanjut dari komitmen tersebut, Jumat (3/7/2026) Kementerian Pertanian melakukan pemantauan langsung ke sejumlah kandang peternak mandiri di Kabupaten Bogor untuk memastikan kondisi di lapangan sekaligus menyerap aspirasi peternak.

Hasil pemantauan menunjukkan harga ayam hidup ada kenaikan sedikit namun masih pada kisaran Rp13.500 per kilogram, jauh di bawah tingkat harga yang memberikan keuntungan layak bagi peternak.

Di Farm Hari Irawan, Kecamatan Ciampea, ayam berbobot sekitar 1,2 kilogram terjual dengan harga Rp16.000–17.000 per kilogram dengan kapasitas kandang mencapai 130.000 ekor. Sementara itu, Farm Pak Haji Muslihin Imat di Doso Sentul, Cijujung, Sukaraja, ayam berbobot 1,5–1,6 kilogram masih dijual pada kisaran Rp13.500–14.500 per kilogram dengan populasi kandang sekitar 16.000 ekor.

Selain mengevaluasi perkembangan harga, Kementan juga mendorong penguatan hilirisasi usaha. Unit kandang peternak populasi besar yang belum memiliki Rumah Potong Hewan Unggas (RPHU) didorong untuk mulai membangun fasilitas tersebut paling lambat tahun depan agar dapat meningkatkan efisiensi usaha, sebagai katup pengaman dari harga livebird, memperluas akses pasar, serta memberikan nilai tambah bagi peternak.

Hary menegaskan bahwa keberhasilan stabilisasi harga memerlukan keterlibatan aktif perusahaan-perusahaan terintegrasi dalam membina peternak di wilayah kemitraannya dan juga peternak mandiri.

“Kami meminta perusahaan-perusahaan terintegrasi untuk terus merangkul peternak mandiri, memberikan pendampingan, serta mengedukasi mereka agar tidak melakukan spekulasi pasar yang justru dapat menghambat upaya stabilisasi harga yang sedang dibangun bersama,” tegasnya.

Ke depan, Kementerian Pertanian akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan produksi, stok, serta harga ayam hidup di lapangan. Melalui kolaborasi yang erat antara pemerintah, perusahaan-perusahaan terintegrasi, dan peternak mandiri, diharapkan harga ayam hidup di Jawa Barat dapat segera pulih sehingga keberlanjutan usaha perunggasan nasional tetap terjaga dan kesejahteraan peternak semakin meningkat.

Tingkatkan exposure dan reputasi brand/perusahaan lewat publikasi media nasional 

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img