IHSG Dibuka Menguat di Tengah Ketidakpastian Global dan Lonjakan Harga Minyak

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) IHSG Bursa Efek Indonesia dibuka menguat pada perdagangan Selasa (17/3) pagi, seiring sikap pelaku pasar yang masih cenderung menunggu (wait and see) terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral, baik dari dalam maupun luar negeri.

Pada pembukaan perdagangan, IHSG tercatat naik sebesar 52,32 poin atau 0,75 persen ke level 7.074,61. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga mengalami kenaikan 6,99 poin atau 0,98 persen ke posisi 720,72.

Kepala Riset Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, menyampaikan bahwa menjelang periode libur panjang, investor cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi. Ia memperkirakan pergerakan IHSG akan berada di kisaran 6.900 hingga 7.150.

“Menjelang libur panjang, diperkirakan investor cenderung menahan diri di tengah ketidakpastian yang masih tinggi. IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 6.900-7.150,” ujar Kepala Riset Phintraco Sekuritas Ratna Lim dalam kajiannya di Jakarta, Selasa (17/3).

Dari sisi global, perhatian pelaku pasar tertuju pada keputusan suku bunga sejumlah bank sentral dunia, termasuk The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan mengumumkan kebijakan terbarunya pada Rabu (18/03). Keputusan tersebut menjadi momen penting di tengah meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran yang telah berlangsung selama beberapa pekan terakhir.

Selain itu, lonjakan harga minyak mentah dunia turut menjadi perhatian utama pasar. Penutupan Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi energi global dinilai dapat mengganggu pasokan dan menekan perekonomian dunia. Meski pemerintah AS telah mencoba meredakan tekanan melalui pelonggaran sanksi terhadap minyak Rusia, harga minyak masih menunjukkan tren kenaikan.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, bahkan meminta sejumlah negara untuk membantu membuka kembali jalur tersebut. Namun, respons internasional masih cenderung terbatas. Di sisi lain, rencana kunjungan Trump ke China pada akhir Maret 2026 dikabarkan berpotensi ditunda, seiring upaya diplomatik terkait isu tersebut.

Dari dalam negeri, kekhawatiran terhadap dampak kenaikan harga minyak terhadap inflasi, pelebaran defisit APBN, serta potensi pelemahan nilai tukar Rupiah turut membayangi pergerakan pasar saham. Risiko perlambatan ekonomi domestik juga menjadi faktor yang diperhitungkan investor.

Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmennya terhadap disiplin fiskal dengan memastikan pengelolaan anggaran negara tetap prudent. Ia menyebut bahwa pelebaran defisit APBN hingga batas maksimal 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) hanya akan ditempuh dalam kondisi darurat.

Sementara itu, pelaku pasar domestik juga menanti hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia yang diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75 persen. Di sisi lain, pertumbuhan kredit perbankan diproyeksikan meningkat menjadi 10,1 persen secara tahunan pada Februari 2026.

Sentimen positif juga datang dari bursa global. Pada perdagangan sebelumnya, bursa saham Eropa dan Amerika Serikat kompak menguat. Indeks Nasdaq, S&P 500, dan Dow Jones di Wall Street ditutup di zona hijau, seiring optimisme pasar terhadap kondisi ekonomi.

Di kawasan Asia, mayoritas indeks saham juga dibuka menguat pada Selasa pagi, termasuk Nikkei, Hang Seng, Shanghai, dan Strait Times yang menunjukkan tren positif mengikuti sentimen global.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img