Sabtu, Maret 14, 2026
spot_img

Devi Erna Rachmawati: Ketahanan Pangan Jadi Pilar Strategis Kemitraan Ekonomi Indonesia–Kanada

Ketahanan pangan kini telah berevolusi menjadi isu strategis yang jauh melampaui urusan produksi pertanian semata. Isu ini telah naik kelas menjadi agenda ekonomi nasional yang berkaitan erat dengan produktivitas, stabilitas rantai pasok, arus investasi, hingga ketahanan ekonomi jangka panjang.

Hal itu disampaikan Wakil Ketua Umum Bidang Pertanian KADIN Indonesia, Devi Erna Rachmawati, dalam diskusi panel bertajuk “Mendorong Perdagangan dan Investasi melalui Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA)” pada forum Canada in Asia Conference di Swiss Hotel Raffles City Convention Centre, Singapura, Senin (10/2/26).

- Advertisement -

“Diskusi ini sangat relevan dan tepat waktu. Ketahanan pangan tidak lagi semata soal produksi, melainkan telah menjadi fondasi ekonomi strategis bagi Indonesia dan Kanada,” ujar Devi Erna Rachmawati di hadapan para pelaku usaha dan pemangku kepentingan kedua negara.

Menurutnya, konsep ketahanan pangan modern mencakup spektrum yang jauh lebih luas. Tidak hanya soal ketersediaan pangan, tetapi juga keandalan rantai pasok, keterjangkauan harga, kualitas dan keamanan gizi, keberlanjutan lingkungan, serta kemampuan menghadapi berbagai guncangan global seperti perubahan iklim dan ketidakpastian geopolitik.

- Advertisement -

Bagi Indonesia, dengan jumlah penduduk lebih dari 280 juta jiwa dan kelas menengah yang terus bertumbuh, ketahanan pangan memiliki dampak langsung terhadap pengendalian inflasi, stabilitas sosial, serta daya saing ekonomi nasional. “Volatilitas harga pangan selalu menjadi faktor sensitif dalam stabilitas makroekonomi,” tegas Devi Erna Rachmawati.

Sementara itu, bagi Kanada yang dikenal sebagai salah satu pemimpin global dalam produksi pertanian dan inovasi sistem pangan, ketahanan pangan merupakan kekuatan utama perdagangan internasional.

“Karena itu, ketahanan pangan menjadi pilar alami dalam kemitraan ekonomi Indonesia–Kanada,” lanjutnya.

Pendekatan Indonesia Incorporated

- Advertisement -

Indonesia, jelas Devi, mengembangkan ketahanan pangan melalui pendekatan Indonesia Incorporated, yakni kolaborasi erat antara pemerintah, dunia usaha, investor, lembaga riset, serta talenta muda.

Dalam model ini, pemerintah pusat dan daerah berperan menyediakan arah kebijakan, insentif, dan kepastian regulasi. Sementara sektor swasta mendorong efisiensi dan skala produksi, dan lembaga riset serta wirausaha muda menjadi motor inovasi.

“Dalam kerangka ini, perdagangan internasional dan investasi asing langsung bukan lagi pilihan tambahan, tetapi kebutuhan untuk memperkuat sistem pangan domestik,” tuturnya.

Kerja sama dengan Kanada dinilai sangat strategis, terutama dalam akses teknologi pertanian, ketersediaan input berkualitas, dan penguatan sistem keamanan pangan.

Hubungan Dagang yang Saling Melengkapi

Data tahun 2024 menunjukkan nilai perdagangan bilateral Indonesia–Kanada mencapai sekitar USD 6,7 miliar. Ekspor Indonesia ke Kanada tercatat sebesar USD 3,5 miliar, sementara ekspor Kanada ke Indonesia sekitar USD 3,2 miliar.

Dalam sektor pangan dan pertanian, Kanada menjadi pemasok penting bagi Indonesia, terutama untuk komoditas yang belum dapat diproduksi optimal di dalam negeri. Beberapa ekspor utama Kanada ke Indonesia meliputi gandum senilai USD 888,6 juta, pupuk USD 366,8 juta, biji minyak seperti kanola dan kedelai USD 138 juta, pulp dan kayu USD 284,7 juta, serta produk perikanan USD 18,6 juta.

Sebaliknya, Indonesia mengekspor produk unggulan tropis bernilai tambah ke Kanada, antara lain karet dan turunannya USD 185,9 juta, kakao dan produk olahannya USD 58,2 juta, produk perikanan USD 54,7 juta, kopi USD 29,5 juta, serta nanas dan buah tropis lainnya USD 5,8 juta.

Minyak sawit dan turunannya juga menjadi komoditas strategis. Saat ini Indonesia merupakan pemasok terbesar kedua minyak sawit ke Kanada dan menargetkan menjadi yang teratas.

“Hubungan ini bukan satu arah. Kanada menyediakan input utama sistem pangan, sementara Indonesia melengkapi pasar Kanada dengan komoditas tropis yang tidak dapat diproduksi secara lokal,” jelas Devi Erna Rachmawati.

Produktivitas, Investasi, dan SDM

Devi Erna Rachmawati menekankan bahwa ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari peningkatan produktivitas dan investasi. Pada 2024, total impor agri-pangan dan hasil laut Indonesia mencapai sekitar USD 39 miliar, mencerminkan meningkatnya permintaan pangan berkualitas seiring urbanisasi dan perubahan gaya hidup.

Devi Erna Rachmawati mengatakan rantai pasok yang efisien berperan penting dalam stabilisasi harga dan pengendalian inflasi. Di sisi lain, ekspor ke Kanada mendorong pelaku usaha Indonesia untuk meningkatkan standar keberlanjutan, ketertelusuran, serta keamanan pangan.

Hal ini membuka peluang besar bagi UMKM, industri pengolahan, hingga komunitas pertanian dan perikanan di berbagai daerah.

Keberhasilan transformasi sistem pangan, menurutnya, sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia. Kerja sama Indonesia–Kanada berpotensi mencakup pertukaran talenta, riset terapan, pelatihan UMKM, serta pengembangan startup agri-pangan berbasis anak muda dan perempuan.

“Ketahanan pangan harus dipahami sebagai infrastruktur produktif—setara dengan energi, logistik, dan sistem digital,” tegasnya.

CEPA sebagai Platform Strategis

Dalam konteks kelembagaan, Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) menjadi platform strategis untuk memperdalam kemitraan kedua negara.

Perjanjian ini akan menghapus tarif secara bertahap atas lebih dari 95 persen ekspor Kanada ke Indonesia, meningkatkan akses pasar bagi produk pangan Indonesia, serta memperkuat kerja sama regulasi dan perlindungan investasi.

Bagi sektor pangan, CEPA membuka peluang perdagangan yang lebih terprediksi, mendorong investasi bersama, dan memperkuat integrasi rantai nilai agri-pangan kedua negara.

Menutup paparannya, Devi menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi paling strategis dalam hubungan Indonesia–Kanada.

“Dengan memperkuat perdagangan, investasi, inovasi, dan pengembangan SDM, kedua negara dapat membangun rantai pasok pangan yang tangguh dan berkelanjutan. Dengan pendekatan Indonesia Incorporated dan mitra tepercaya seperti Kanada, kita memiliki peluang nyata untuk melangkah dari sekadar arus perdagangan menuju kemitraan strategis jangka panjang di bidang ketahanan pangan,” pungkasnya.

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img