IHSG Melemah di Tengah Ketidakpastian Perdagangan Indonesia-AS dan Ancaman Tarif Baru dari Trump

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka melemah pada perdagangan Selasa pagi (8/7), seiring meningkatnya kekhawatiran pelaku pasar terhadap dinamika hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS). IHSG turun 10,09 poin atau 0,15 persen ke level 6.890,84. Sementara itu, indeks saham unggulan LQ45 juga terkoreksi 2,63 poin atau 0,34 persen ke posisi 764,87.

Analis Phintraco Sekuritas, Ratna Lim, mengungkapkan bahwa secara teknikal, terdapat peluang terjadinya technical rebound pada IHSG. Namun demikian, potensi tersebut belum didukung oleh volume perdagangan yang cukup kuat.

- Advertisement -

“Secara teknikal, meskipun ada indikasi IHSG berpeluang mengalami technical rebound, namun belum didukung oleh volume yang kuat. Apabila IHSG dapat bertahan di atas level 6.900, ada potensi terjadi rebound lanjutan jika disertai dengan kenaikan volume. Namun, jika IHSG gagal bertahan di atas level 6.900, diperkirakan IHSG akan kembali menguji level support di 6.800 ,” ujar Analis Phintraco Sekuritas Ratna Lim di Jakarta, Selasa (8/7).

Kondisi pasar semakin tertekan usai munculnya kabar mengenai rencana kebijakan tarif baru dari mantan Presiden AS, Donald Trump. Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Pemerintah Indonesia, Trump menyampaikan rencana penerapan tarif impor sebesar 32 persen yang akan mulai diberlakukan per 1 Agustus 2025. Tidak hanya itu, tarif transshipment untuk produk asal Indonesia juga akan dinaikkan.

- Advertisement -

Apabila Indonesia memberlakukan tarif balasan kepada AS, maka tarif Indonesia juga akan dinaikkan. Sebaliknya, apabila Indonesia atau perusahaan dari Indonesia memproduksi produk di AS tidak akan dikenakan tarif, yang berpotensi menjadi faktor negatif di Bursa di saat pasar berekspektasi adanya penurunan tarif.

Namun, ada celah dalam kebijakan ini. Produk-produk asal Indonesia yang diproduksi langsung di Amerika Serikat tidak akan dikenakan tarif tambahan, yang membuka opsi relokasi produksi sebagai respons dari pelaku industri.

Kebijakan proteksionis ini tidak hanya ditujukan kepada Indonesia. Sejumlah negara lain juga akan dikenakan tarif serupa, seperti Korea Selatan, Jepang, Malaysia, Kazakhstan, Afrika Selatan, Laos, Myanmar, Bosnia dan Herzegovina, Tunisia, Bangladesh, Serbia, Kamboja, dan Thailand. Bahkan, negara-negara yang terafiliasi dengan aliansi BRICS akan menerima tambahan tarif sebesar 10 persen.

Presiden Trump mengkonfirmasi bahwa tarif resiprokal akan berlaku mulai 1 Agustus 2025 bagi negara-negara yang belum mencapai kesepakatan dagang dengan AS.

- Advertisement -

Langkah ini dinilai pasar sebagai sinyal meningkatnya kembali eskalasi perang dagang global, yang berisiko menekan pertumbuhan ekonomi dunia. Tak heran jika para investor kini mengambil sikap lebih hati-hati, sambil menantikan rilis data Indeks Keyakinan Konsumen (Consumer Confidence) untuk bulan Juni yang dijadwalkan keluar hari ini, Selasa (8/7).

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 24,46 poin atau 0,57 persen ke 39.725,69, indeks Shanghai menguat 4,54 poin atau 0,40 persen ke 3.450,87, indeks Hang Seng naik 257,30 poin atau 1,24 persen ke 23.965,55, dan indeks Strait Times menguat 0,11 poin atau 0,44 persen ke 4.010,79.

Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

Kirimkan Press Release berbagai aktivitas kegiatan Brand Anda ke email sekred@infoekonomi.id

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Terbaru

spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img
spot_img