Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) diperkirakan akan bergerak menguat pada perdagangan Rabu (21/5), di tengah ekspektasi pasar terhadap keputusan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). Sejak pembukaan, IHSG tercatat naik 20,10 poin atau 0,60 persen ke level 7.114,70. Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga menguat 2,96 poin atau 0,37 persen ke posisi 805,51.
Kenaikan IHSG ini ditopang oleh harapan pelaku pasar terhadap hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang berlangsung pada 20–21 Mei 2025. Dalam rapat tersebut, perhatian utama investor tertuju pada kebijakan BI terkait suku bunga acuan, yang sebelumnya bertahan di level 5,75 persen pada April 2025.
Menurut konsensus analis, Bank Indonesia diprediksi akan menurunkan suku bunga acuannya menjadi 5,50 persen. Penurunan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi domestik yang saat ini tengah melambat. Selain itu, stabilnya nilai tukar rupiah turut memperkuat ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam laporannya menyatakan bahwa kebijakan suku bunga BI menjadi fokus utama di tengah ketidakpastian global. Langkah ini dianggap strategis untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
“Salah satu yang menjadi perhatian yakni suku bunga (BI rate) di tengah ketidakpastian global saat ini,” sebut Tim Riset Lotus Andalan Sekuritas dalam kajiannya di Jakarta, Rabu.
Selain menanti keputusan BI, pelaku pasar juga mencermati pemaparan kerangka ekonomi makro dan pokok-pokok kebijakan fiskal oleh Kementerian Keuangan pada Selasa (20/5). Dalam presentasinya kepada DPR, pemerintah menetapkan sejumlah asumsi dasar untuk penyusunan RAPBN 2026, termasuk target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,2 hingga 5,8 persen, inflasi 1,5 hingga 3,5 persen, serta nilai tukar rupiah di kisaran Rp16.500 hingga Rp16.900 per dolar AS.
Asumsi makro ini dinilai krusial karena akan menjadi acuan utama dalam penyusunan kebijakan fiskal tahun depan, termasuk dalam menentukan arah belanja negara dan strategi pengendalian defisit.
Dari kawasan regional Asia, kebijakan moneter China turut menjadi sorotan. Pada Selasa (20/5), People’s Bank of China (PBOC) memangkas suku bunga pinjaman acuannya (Loan Prime Rate/LPR) satu tahun sebesar 10 basis poin menjadi 3,0 persen. Sementara itu, LPR lima tahun yang menjadi acuan utama untuk kredit perumahan juga diturunkan menjadi 3,5 persen. Langkah ini diambil untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik serta memperkuat nilai tukar yuan di tengah menurunnya ketegangan perdagangan global.
Di sisi lain, dari Amerika Serikat, pasar keuangan mencermati perkembangan terbaru terkait proposal pajak Presiden Donald Trump. Penolakan sejumlah anggota Partai Republik terhadap usulan perubahan batas pengurangan pajak negara bagian dan lokal (SALT cap) menghambat kelolosan RUU pajak baru. Kegagalan tersebut berisiko menggagalkan target pemerintah untuk mengesahkan paket pajak sebelum akhir pekan Memorial Day.
Bursa saham utama AS di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Selasa (20/05) seiring berakhirnya reli di saham teknologi.
Indeks S&P 500 turun 0,39 persen dan ditutup di level 5.940,46 sekaligus mengakhiri tren penguatan selama enam hari berturut-turut.Indeks Nasdaq melemah 0,38 persen ke 19.142,71 sementara Dow Jones Industrial Average melandai 114,83 poin atau 0,27 persen menjadi 42.677,24.
Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei melemah 80,49 poin atau 0,21 persen ke 37.449,00, indeks Shanghai menguat 8,91 poin atau 0,26 persen ke 3.389,39.
Indeks Hang Seng melemah 149,52 poin atau 0,63 persen ke 23.831,00, dan indeks Strait Times menguat 5,17 poin atau 0,13 persen ke 3.877,33.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News
































