Bank Sumut, sebagai Bank Pembangunan Daerah (BPD) di Sumatera Utara, terus menunjukkan performa yang solid meskipun menghadapi tantangan ekonomi global yang masih bergejolak.
“Kinerja kita tetap tumbuh positif,” ujar Direktur Utama Bank Sumut, Babay Parid Wazdi, dalam Public Expose yang digelar di Aula Bank Sumut, Medan, Jumat (7/2). Acara ini turut dihadiri jajaran direksi, termasuk Direktur Pemasaran Hadi Sucipto, Direktur Keuangan & Teknologi Informasi Arieta Aryanti, Direktur Kepatuhan Eksir, serta Direktur Bisnis & Syariah Syafrizalsyah. Sekretaris Perusahaan Suwandi dan pimpinan divisi lainnya juga hadir.
Pertumbuhan Aset dan Dana Pihak Ketiga
Hingga Desember 2024, total aset Bank Sumut mencapai Rp 45,4 triliun, meningkat 2,38 persen dari Rp 44,4 triliun pada tahun sebelumnya. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 2,61 persen, dari Rp 35 triliun di 2023 menjadi Rp 35,9 triliun pada 2024.
Baca Juga: Bank Sumut Tunda Rencana IPO hingga Beberapa Tahun Mendatang
Pertumbuhan DPK didorong oleh peningkatan tabungan sebesar 3,08 persen serta lonjakan deposito sebesar 10,58 persen. Layanan digital seperti mobile banking, program literasi keuangan di institusi pendidikan dan komunitas, serta pembukaan lima unit kantor baru turut berkontribusi dalam peningkatan ini. Selain itu, layanan Sumut Link juga dikembangkan sebagai pilar utama digitalisasi perbankan di wilayah Sumatera Utara.
Kredit dan Rasio Keuangan Meningkat
Total kredit dan pembiayaan pada 2024 mencapai Rp 31,9 triliun, meningkat 9 persen dibandingkan Rp 29,4 triliun di tahun sebelumnya. Kualitas aset pun terus membaik, dengan rasio Non-Performing Loan (NPL) menurun dari 2,38 persen menjadi 2,19 persen.
“Bank Sumut juga terus mendukung sektor UMKM, terutama melalui penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang sejak 2016 telah mencapai Rp 6,6 triliun,” jelas Babay Parid Wazdi.
Sejalan dengan itu, laba bersih yang berhasil dibukukan pada 2024 mencapai Rp 741 miliar. Pencapaian ini didorong oleh strategi optimalisasi pendanaan dari berbagai sumber, termasuk DPK, di tengah tingginya suku bunga pasar.
Unit Usaha Syariah Bank Sumut Terus Bertumbuh
Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Sumut mencatat pertumbuhan signifikan dengan total aset meningkat 19,39 persen dari Rp 3,9 triliun di 2023 menjadi Rp 4,7 triliun pada 2024. DPK UUS juga naik 10 persen, dari Rp 2,7 triliun menjadi Rp 3 triliun, sementara pembiayaan tumbuh 9,66 persen, mencapai Rp 2,9 triliun.
Dari sisi profitabilitas, laba UUS meningkat tajam sebesar 88,27 persen, dari Rp 46,6 miliar pada 2023 menjadi Rp 96,3 miliar di 2024. Pertumbuhan ini menjadi yang tertinggi dalam lima tahun terakhir.
Untuk memperluas layanan syariah, Bank Sumut menerapkan strategi Dual Banking Leverage Model (DBLM), yang memungkinkan layanan perbankan syariah diakses melalui unit konvensional.
“Strategi ini bertujuan memperluas jangkauan pasar syariah sekaligus meningkatkan aset secara konsolidasi,” tambah Babay Parid Wazdi.
Strategi dan Fokus Bank Sumut ke Depan
Ke depan, Bank Sumut akan fokus pada lima sektor prioritas: pemerintahan, pendidikan, kesehatan, pertanian, dan desa. Hal ini diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi daerah Sumatera Utara.
Bank Sumut juga terus melakukan transformasi digital, termasuk pengembangan mobile banking terbaru dan solusi teknologi untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing.
Tanggapan Ekonom
Ekonom Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kinerja Bank Sumut tetap solid meskipun menghadapi tantangan besar, mulai dari dampak pandemi COVID-19 hingga krisis perbankan global pada 2023.
Menurutnya, Bank Sumut memiliki modal kuat untuk menghadapi tahun 2025, meskipun terdapat berbagai tantangan seperti ketegangan geopolitik, perlambatan ekonomi global, kebijakan moneter ketat, serta pelemahan nilai tukar rupiah.
Laba Bank Sumut di 2024 mengalami kenaikan tipis dibandingkan 2023, namun masih lebih baik dibandingkan rata-rata BPD yang mengalami penurunan 6,81 persen.
“Walaupun demikian, Bank Sumut tidak boleh berpuas diri. Kinerja keuangan harus terus diperbaiki, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi yang meningkat,” tegas Gunawan Benjamin.
Ia juga menekankan pentingnya peran Bank Sumut dalam pembangunan daerah. Menurutnya, meskipun Bank Sumut mampu bertahan, permodalannya akan lebih kuat jika pemerintah daerah menambah modal, misalnya melalui private placement, guna mendukung operasional dan akselerasi kinerja secara hati-hati.
“Yang penting, peningkatan kinerja keuangan harus dilakukan dengan tetap mempertimbangkan stabilitas jangka panjang,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel Lainnya di Google News































