Awal minggu, tepatnya pada Senin (6/1), rupiah dibuka di angka Rp16.180 per dolar AS. Mata uang Garuda ini mengalami penguatan tipis, naik 17 poin atau sekitar 0,10 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Meski begitu, rupiah masih harus menghadapi berbagai tekanan di pasar global, terutama dari kekuatan dolar AS.
Ternyata, bukan hanya rupiah yang sedikit menguat, mata uang negara-negara di kawasan Asia pun menunjukkan pergerakan yang bervariasi. Beberapa mata uang seperti peso Filipina, baht Thailand, dan ringgit Malaysia terpantau sedikit melemah. Begitu juga dengan yen Jepang dan yuan China yang turut terdepresiasi. Namun, ada juga yang menguat seperti won Korea Selatan, dolar Singapura, dan dolar Hong Kong.
Menariknya, di negara-negara maju, hampir semua mata uang juga mengalami penguatan. Misalnya saja poundsterling Inggris yang naik 0,09 persen, dolar Australia yang menguat 0,17 persen, hingga euro yang sedikit naik 0,04 persen. Dolar Kanada bahkan lebih menggembirakan dengan kenaikan sebesar 0,33 persen. Hanya franc Swiss yang sedikit tergerus dengan penurunan 0,14 persen.
Namun, pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra, menilai bahwa rupiah masih bisa mendapatkan tekanan dari dolar AS dalam waktu dekat. Menurut Ariston, pasar masih mengantisipasi dampak kebijakan ekonomi yang dikeluarkan oleh Presiden Donald Trump pada tahun lalu, ditambah dengan pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed).
“Pasar akan fokus pada data ekonomi terbaru dari AS yang bakal dirilis minggu ini, seperti data PMI dan tenaga kerja. Data-data ini bisa jadi penentu arah kebijakan The Fed berikutnya, yang tentu akan mempengaruhi kekuatan dolar AS,” ujarnya dalam wawancara dengan CNNIndonesia.com.
Melihat faktor-faktor di atas, Ariston memperkirakan bahwa rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.100 hingga Rp16.250 per dolar AS pada hari itu. Jadi, meskipun ada sedikit penguatan, rupiah masih harus menghadapi ketidakpastian global yang dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi dan data-data penting yang akan dirilis dalam waktu dekat.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































