Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan bahwa pendapatan negara sepanjang tahun 2024 tidak mencapai target yang telah ditetapkan dalam APBN.
Meski demikian, kinerja pendapatan menunjukkan pertumbuhan dibandingkan tahun sebelumnya, di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan.
“Pada akhir tahun bahkan masih tumbuh, meski tidak tinggi, tapi cukup decent untuk situasi yang tidak mudah, tumbuh dari tahun lalu, meski tak capai target karena target 2024 waktu itu dibuat cukup tinggi,” kata Sri Mulyani saat mewakili Presiden Prabowo Subianto dalam seremoni Pembukaan Perdagangan Bursa Efek Indonesia 2025, Jakarta, Selasa (2/1/2025).
Baca juga: Pendapatan Negara Tembus Rp2.492,7 Triliun hingga November 2024
Sri Mulyani menjelaskan, angka final realisasi pendapatan negara akan diumumkan dalam konferensi pers di Kementerian Keuangan dalam waktu dekat.
Dalam APBN 2024, pemerintah menargetkan pendapatan negara sebesar Rp2.802,29 triliun. Sedangkan realisasi pendapatan negara pada 2023 senilai Rp 2.774,3 triliun, lebih tinggi dari target APBN 2023 dalam Perpres 75/2023 senilai Rp 2.637,25 triliun.
Namun, hingga November 2024, realisasi baru mencapai Rp2.492,7 triliun, atau sekitar 89% dari target, dengan pertumbuhan 1,3% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya. Kinerja ini terutama didorong oleh sektor pajak.
Wakil Menteri Keuangan Anggito Abimanyu mengungkapkan dari total pencapaian penerimaan ini, setoran pajak mencapai Rp 1.688,93 triliun atau setara 85% dari target di APBN 2024.
Kinerja ini sebenarnya masih jauh dari target, padahal sisa tahun ini hanya tinggal sebulan lagi. Namun, Anggito menegaskan penerimaan ini masih on track dan sesuai siklusnya.
“Itu sesuai dengan siklus yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya,” ungkap Anggito dalam Konferensi Pers APBN KITA Edisi Desember 2024, Rabu (11/12/2024).
“Jadi saya bisa katakan target penerimaan perpajakan masih on track sesuai siklus yang kita lihat pencapaian target yang biasanya di Desember ada upaya-upaya dan penerimaan-penerimaan yang cukup signifikan,” kata Anggito.
Dari data Kemenkeu, penerimaan pajak Rp 1.688,93 triliun, terdiri dari PPN dan PPnBM Rp 707,76 triliun (87,23% dari target); PPh Migas Rp 58,89 triliun (77,10%); PPh Nonmigas Rp 885,77 triliun (83,30%) dan PBB Rp 36,52 triliun (96,76%).
Sementara itu, penerimaan bea cukai mencapai Rp 257,8 triliun per November 2024. Capaian ini setara dengan 80,3% dari target. Secara rinci, bea masuk tercatat tumbuh 4% (yoy) menjadi Rp 47,7 triliun atau 83,2% dari target pada November 2024 dan bea keluar sebesar Rp 17,3 triliun atau tumbuh 47,9% (yoy). Besaran bea keluar ini setara dengan 98,7% dari target APBN 2024.
Lebih lanjut, penerimaan cukai mencapai Rp 192,7 triliun, tumbuh 2,8% pada November 2024. Setoran cukai ini setara dengan 78,3% dari target APBN 2024.
Lalu, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) tercatat sebesar Rp 522,4 triliun. Besaran PNBP ini telah melampaui target APBN 2024, tepatnya 106,2% dari sasaran pemerintah. Capaian ini utamanya disumbang oleh peningkatan kinerja BUMN dan satuan kerja BLU.
Cek Artikel dan Berita Lainnya di Google News

































