InfoEkonomi.ID – Di tengah maraknya layanan bebas ongkos kirim (free ongkir) yang ditawarkan oleh banyak perusahaan logistik swasta untuk menarik pelanggan e-commerce, PT Pos Indonesia (Persero) memutuskan untuk tidak mengikuti tren tersebut.
Direktur Operasi dan Digital Services Pos Indonesia, Hariadi, menjelaskan bahwa strategi free ongkir umumnya dibebankan kepada perusahaan logistik atau pelaku usaha, yang dianggap kurang menguntungkan dan berisiko bagi kinerja keuangan perusahaan dalam jangka panjang.
“Walaupun tidak mengikuti strategi free ongkir, kami tetap mengalami pertumbuhan di marketplace. Volume pengiriman paket kami mencapai 300 ribu hingga 400 ribu per hari, dengan pangsa pasar sekitar 3,5 hingga 4%,” ungkap Hariadi dalam acara Penguatan BUMN Menuju Indonesia Emas di Sarinah, Jakarta, Rabu (2/10).
Hariadi juga menyebutkan bahwa layanan free ongkir lebih bersifat jangka pendek dan tidak berkelanjutan. Beberapa perusahaan logistik yang sebelumnya menjadi pemain utama di ekosistem marketplace kini mengalami kesulitan, bahkan ada yang mundur dari pasar. “Kita sudah melihat beberapa perusahaan kurir mulai kolaps, padahal mereka sebelumnya adalah anchor di ekosistem marketplace,” tambahnya.
Dengan fokus pada keberlangsungan bisnis, PT Pos Indonesia memilih untuk tetap bertahan dengan strategi bisnis yang lebih stabil dan tidak terpengaruh oleh tren jangka pendek seperti free ongkir.

































